5 Bulan

Malem ini tiba-tiba keinget blog ini yang udah lama banget ditinggal sejak menikah. Entah, walau mengiyakan kata-kata Tohir bahwa menikah membawa banyak inspirasi, tapi rasanya menceritakannya ke luar jadi enggak semudah biasanya.

Bukan karena enggak ada waktu juga, atau jadi sulit bercerita. Cuman, menuangkan pikiranku langsung ke seseorang yang selalu mau mendengarkan walaupun sedang repot masak telur di dapur, itu rasanya lebih melegakan. Dan kadang memunculkan rasa sudah berhasil "Post" sebuah artikel :)

Gimana kalau coba cerita kesan-kesan setelah menikah?
Hmm.. kalau penasaran sih tanya langsung aja, bukan tipe cerita di depan umum apalagi topik seperti ini. Takut disalahartikan.

Disalahartikan bagaimana? Satu sisi bagi kita, mungkin kisah-kisah setelah nikah seperti itu jadi bisa diambil sebuah hikmah, sebuah pengalaman yang berharga dan bermanfaat. Tapi aku kadang juga kebayang sebuah sisi lain di mana orang lain bisa jadi menganggap pernikahan yang diceritakan merupakan pernikahan yang "ideal", yang "seharusnya", yang "beruntung", atau sejenisnya.

Dan takutku ketika mereka masuk ke dunia pernikahan, dan menemukan perbedaan cerita dari artikel yang mereka baca, mereka merasa berada pada pernikahan yang "tidak ideal", yang "tidak seharusnya", yang "tidak beruntung", atau sejenisnya. Padahalkan pernikahan itu cerita hidup kita yang tidak perlu dibanding-bandingkan, ibarat rizqi seseorang, semua ada jatah cukupnya, ada jatah lebihnya, tinggal bagaimana kita bisa bersyukur.


**

Pikiran di tengah malam sambil belajar-belajar, kayaknya mau coba aktifin nulis-nulis lagi setelah ini :/

Cita-cita

Akhir-akhir ini lihat beberapa kerabat dekat sedang memperjuangkan cita-citanya.

Ya di SBMPTN, Ujian Nasional, tes TPA, Olimpiade, dll.

Seneng aja lihat orang-orang yang berani mengorbankan banyak hal untuk menggapai apa yang dia impi-impikan, benar-benar melihat sebuah usaha dan perjuangan.

Di sini saya yang memperhatikan cuma bisa mendoakan, semoga kalian dapat yang terbaik :)

Dan seandainya impian itu harus gagal diraih, percaya aja perjuangan kalian tidak sia-sia, ada yang berubah pada diri kalian dan nantinya itu akan bermanfaat untuk kalian nantinya.

Semangat!

Jawabnya ada di ujung langit

"Islam itu sudah saklek (tetap, sempurna), sedangkan ilmu pengetahuan itu masih berkembang. Jadi misal ada ilmu pengetahuan yang dirasa tidak cocok dengan ajaran Islam, maka yang salah bisa jadi pemahaman kita terhadap ilmu agama kita, atau ilmu pengetahuan kita yang masih belum sampai di situ"

Kira-kira seperti itu kata seseorang yang saya lupa siapa, ketika ditanya yang saya lupa apa, di Masjid Manarul Ilmi ITS awal kuliah dulu.

Dan kepercayaan itu yang saya anut, yang saya jadikan pegangan ketika hati terbolak balik oleh logika dan ilmu pengetahuan yang terbatas ini. Sebaiknya kita percaya, Sami'na wa atho'na, ada sebuah jawaban di sana yang belum kita tahu.

Jika sebuah ibadah itu rumit, maka ada hikmah dibaliknya maka bersabarlah atas ibadah itu. Jika sebuah ibadah itu sederhana, maka ada hikmah dibaliknya maka janganlah ditambah dengan perkara-perkara lain. Allah adalah sebaik-baik perencana.

"Kamu pasti sempat mengalami masa-masa down ketika menjalankan aktivitasmu yang sangat berat, apa yang membuatmu yakin untuk tetap melanjutkannya?", tanyanya. "Aku yakin apa yang kulakukan ini adalah baik dan Allah akan membalas dan memberi kemudahan dalam menjalankan aktivitas ini", kata-kata dari seorang teman, yang saya dengar sendiri beberapa waktu lalu

# Renungan nasehat untuk diri sendiri

Alamri

Di pertemuan pertama pelajaran kesenian di SMA, guruku mengajukan pertanyaan yang sempat bikin sekelas diam:
Apakah saya seorang seniman?

Pertanyaan ini rasanya jebakan banget, bisa jadi kita harus menjawab "Iya" atau bisa juga "Tidak". Beberapa detik awal teman-teman cukup yakin untuk menjawab "Iya" tapi beberapa detik kemudian kita sama-sama gak yakin sama jawaban kita.
Bagaimana kamu bisa bilang saya seniman padahal kamu belum pernah lihat karya saya. Seniman itu dikenal dengan karyanya.

Jawabanya setelah beberapa saat sekelas bingung.

Hikmah:
Jadi sebenarnya beliau berharap kita tidak men-judge seseorang berdasarkan jabatan yang sedang dia pegang. Beliau memang guru kesenian, tapi jika kita belum melihat karyanya belum melihat geliatnya di dunia seni, maka jangan terburu-buru untuk memanggilnya dengan sebutan seniman.

Kadang kita ngerasa men-judge seseorang dengan hal yang buruk itu sesuatu yang salah. Tetapi men-judge seseorang dengan hal yang baik, itu juga tidak selamanya benar. Membesar-besarkan pujian yang awalnya hanya dari dugaan sederhana, mengabarkan ke orang lain sehingga semua berpikiran sama, dan akhirnya berekspektasi lebih. Bagaimana seandainya sebuah keputusan terlahir karena dugaan "baik" itu? bisa jadi seorang kepala sekolah akan mengangkat seseorang untuk menjadi guru kesenian, hanya karena kata orang dia seniman.

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu" - QS. Al-Hujurat:6

Twelve Monkeys

Tiap lagi nonton film atau baca buku yang udah pernah dibaca atau ditonton, keinget kutipan dari film jadul tapi keren ini (Twelve Monkeys):
The movie never changes, it can't change. But every time you see it, it seems different because you're different. You see different things

Hikmah:
Manusia itu selalu bisa berubah, dalam pandangan, hati, atau perbuatan, semua itu tergantung dari lingkungannya dan apa yang dia pelajari. Pilih lingkungan yang baik, dan pelajari apa yang baik-baik, karna biasanya kita nggak sadar kalau kita sudah berubah sampai ada yang negur perubahan kita :( Semoga bisa jadi renungan bersama.

#NgisiBlogYangLamaDitinggal (oh ya, ini karna saya lagi nyoba ngisi blog yang isinya perkara teknis, nyatet dan sambil belajar bahasa inggris di rianadam.web.ugm.ac.id)

Bu Lilik

"Mas Razi kenal Bu Lilik? yang dari Merauke itu?"
"Oh iya tahu, angkatan atas, dia dapat IPK 4.0 terus ditawarin jadi dosen di UGM tapi dia tolak karena pingin jadi dosen di sana (Merauke)"

Begitu kira-kira obrolan santai saya dengan mas-mas S2 di akhir pembicaraan serius. Rasanya maknyes banget. Ketika kita sibuk nyari kuliah di luar negeri atau daftar kerja di kantor ternama, ada seseorang yang punya kesempatan bagus untuk meningkatkan karirnya, tetapi memilih untuk menolak kesempatan dan mengabdi pada masyarakatnya. Saluuut.. Bu!

Sahabat