Memang, Tak Sekadar Percakapan

Dan diakhir malam ini, juga dapat renungan dari seseorang. Agak beda, tapi masih setopik...
Sebelumnya, sebagai pembicara kita memang harus untuk hati-hati menata niat kita untuk berbicara. Namun.. bagaimana sikap kita jika sebagai pendengar?

Ya kita juga harus lebih terbuka terhadap segala niat si pembicara, bukan tentang niat buruknya, toh jangan juga menduga niatan buruk seseorang, tapi sebenernya lebih ke niat "yang lain" nya.

Bagaimana kalau seandainya si pengajak bicara ini, tidak mempermasalah kan konten pembicaraan? tapi di dalam hatinya dia cuma ingin berjumpa dengan si pendengar, cuma ingin mengobrol dengan si pendengar, cuma ingin menjalin silatuhrahmi, ingin melepas kepenatannya, dari tekanan yang dia alami, dan hal-hal lain. Masihkah kita enggan untuk mendengarkan?

Kenyataannya, Tak Sekadar Percakapan

Tadi siang baru pertama kali denger Pak Sri Mulyana ngisi khotbah Jum'at, dan ada sepatah kata dari beliau yg cukup bisa jadi renungan bersama
"Aku belum sempet puasa syawal nih", "hoo, kalau aku udah di awal bulan kemarin",... Nah, apa maksudnya bilang "aku udah di awal bulan kemarin"? Kenapa dia bilang gitu? Hati-hati dengan niatnya!
Bener memang, kadang itu yang mesti buat renungan, aku, kamu, siapapun, apa maksud dari setiap ucapan kita, tulisan kita, apapun. Apakah sudah bener niatnya?
wallahua'lam, menjaga niat termasuk berat, semoga Allah menguatkan kita, dan kita juga mesti terus memperbaikinya

Pokemon Go

Namanya Empoleon, pokemon favorit dari dulu karna ada kesan "Raja"-nya :v

Pas lagi random sepedaan di jalan utaranya vokasi,
ngelihat anak kecil palingan masih kelas 1-2 SD lagi main Pokemon Go,
di atas motor yang sambil jalan,
bukan nyetir sendirilah -- tapi dibonceng,
sama... Ayahnya... :"
Iya juga, game kayak gini gak cuma deketin antara temen yang suka main game, tapi juga bisa deketin orang tua dan anaknya. Gamenya udah kasih kesempatan besar untuk interaksi antar orang, sekarang tinggal gimana orang tuanya mau tidak mengambil kesempatan dan memberanikan diri untuk berinteraksi dengan anaknya... Ini bisa jadi awal, selain bisa mengawasi pemakaian gadget anaknya, bisa juga jadi sahabat bermain anaknya,"

Pikirku, sambil terus ngontel sepeda dan juga mbayangin seandainya HP ku bisa diinstal Pokemon Go :(

Ud'unii Astajib lakum

diambil dari Muslim Designer Community

Akhir-akhir ini ngerasa ajaib aja, takjub dengan gimana cara Allah membalas sebuah doa. Begitu ndak disangka-sangka, dan seakan mengecilkan kita begitu lemahnya kita dalam berencana dibandingkan dengan ketika Allah telah berencana.

Jadi di hari jumat yang mulia ini saya mau berpesan,

Berdoalah, InsyaAllah akan terkabul, bahkan ketika kita merasa sudah tidak ada jalan lain.
Berdoalah, InsyaAllah akan diperoleh yang terbaik, bahkan ketika kita mengira apa yang kita pilih sudah yang terbaik.

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku[1326] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." (Ghafir : 60)

"Di hari Jum’at terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim yang ia berdiri melaksanakan shalat lantas ia memanjatkan suatu do’a pada Allah bertepatan dengan waktu tersebut melainkan Allah akan memberi apa yang ia minta." (HR. Bukhari)

Baca juga : Keutamaan berdoa di hari Jumat

Ramadhan 1437H: Teman

harusnya empat orang :(

Emang gak seru kalau libur lebaran tapi gak ketemu temen. Dan agak spesial, liburan kali ini ketemu temen yang bisa dibilang udah lama banget gak ketemu, namanya Ega dan Atul. Terakhir ketemu? kayaknya sudah 3-4 tahun lalu di buber SMA.

Qadarullah, posisi duduk di bangku SMA bikin kita saling kenal. Ega dan Atul kadang duduk di depan atau belakang bangkuku dan Arief. Dan sejak itu kita udah saling mempengaruhi satu sama lain. Mengenali cara berpikir masing-masing. Belajar bersikap dewasa ketika ada terjadi konflik.

Arief sudah sibuk go International dan meniti karirnya di ITB, sayang gak bisa hadir karena terbentur jadwalnya. Atul selain sibuk menyelesaikan skripsinya, dia juga sudah melalang buana ke dunia luar memberi manfaat dengan penelitian dan pengabdian. Ega sudah memulai koas sebagai dokter di RS Dr. Soetomo, agak unik ngelihat dia jadi dokter apalagi kalau inget dulu pas SMA dia ketua ekskul basket.

Semoga kita bisa ketemu lagi lain waktu
*dan mungkin lain waktu ketemunya ndak di rumah makan rumah sakit juga ya :))


Ramadhan 1437H: Mudik

"Eh lihat itu, stiker dibelakang mobilnya, ada logo Apple-nya, berarti yang punya mobil itu punya Apple, keren ya"

"Yang itu lihat tuh, ada stiker dari Waterboom, kapan nih mau main renang?"

"Terus yang itu ada stiker dari WBL (Wisata Bahari Lamongan), padahal perasaan dulu WBL gak menarik sih, panas gitu, apa sekarang udah lebih bagus ya? penasaran.."

Siapa sangka salah satu hikmah dibalik macet adalah promosi gratis beberapa tempat wisata dalam bentuk stiker di belakang kaca mobil. Dan siapa sangka hal sepele gitu bisa bikin yang melamun di belakangnya, nungguin mobil bergerak di depannya, jadi bercita-cita untuk tidak kalah dari si-pemilik stiker. Pergi jauh buat bermain, menabung lebih serius, untuk beli stiker, untuk menceritakan ke orang lain.

Ramadhan 1437H: Pak Dedik

#Postingan ini sebagian ditulis di 10 malam terakhir ramadhan kemarin. #Dibuang sayang.

Dua hari ini karena tuntutan kerja yang membutuhkan internet tanpa kuota, akhirnya bikin milih untuk kabur dari rumah ke Wifi Corner di kantor Telkom deket UNESA.

Ada yang menarik di tempat ini, yaitu Masjid Telkom-nya (gak merhatiin nama masjidnya), Jadi setiap habis dzuhur berjamaah nanti ada khatib buat ceramah (bukan kultum, karna ceramahnya bisa sampe setengah jam lebih .-.), terus nanti habis ashar ada ngaji bareng gitu, imamnya baca Al-Quran pake mic terus ada petugas masjid yang membagikan Al-Quran masjid ke jama'ahnya untuk menyimak dan membaca bareng.

Suatu hari setelah Ashar, sambil ngikutin bacaan imam di masjid, karena hari itu kebetulan bawa Al-Quran sendiri jadinya nyimaknya pakai Al-Quran sendiri.

"Mas itu Al-Quran kecil gitu apa ndak susah bacanya ya mas?" awal pembicaraan dari Pak Dedik.
 "Ya, lumayan agak capek sih pak bacanya, tapi kan lebih enteng bawanya." Terus pembicaraan mulai panjang lebar.

Rupanya Pak Dedik adalah seorang bapak kos di daerah UNESA situ, juga pemilik rental komputer dan jasa pengetikan, print, dan sejenisnya. Penampilannya sederhana banget, pakai "polo" coklat sederhana tanpa aksesoris, keliatan agak timpang sama megahnya Masjid Telkom.

Banyak banget obrolan santai dengan beliau, mulai dari jaringan komputer, tips buat ngatasi virus, saran untuk memilih kuliah buat saudaranya, memilih jodoh yang baik, dan beragam pengalaman pribadinya. Logatnya surabaya banget, jiwanya juga, menggebu-gebu dan terkesan berani dan tegas. Kalau dipikir, kok rasanya jarang juga ngobrol sama orang yang berjiwa Surabaya banget gini.

Yo percuma kan kalau di dunia sukses, tapi di akhirat sengsara, mesti seimbang dunia akhirat iku, ojo cuman mikir dunia tok", salah satu kalimat pembuka dari Pak Dedik.
Kalimat itu beliau ucapin di awal percakapan. Dan rasanya kalimat itu tetep mengena menarik walau obrolan jadi panjang ngalor ngidul. Apalagi nginget kondisi yang pas lagi sibuk-sibuknya nggarap pekerjaan padahal udah 10 malam terakhir Ramadhan.

Rasanya agak gak nyangka kalimat itu bisa terlontar oleh seorang yang terlihat "biasa" saja. Seorang pemilik rental komputer yang memiliki mindset seperti itu rasanya.., menarik. Obrolan pun sempat panjang membahas hal tersebut. Dan in yang bikin betah ngobrol panjang dengan beliaunya.

Semoga kita dipertemukan lagi ya Pak, di Ramadhan tahun depan, dan tahun tahun selanjutnya.

"Bisa minta nomornya? sepertinya kita ditakdirkan untuk bertemu di sini", kata beliau menutup obrolan sore itu.

Ramadhan 1437H : Lingkungan

Karena kenyataannya kamu terbentuk lebih dari sekadar genetik orang tua,
tapi juga semua nenek buyutmu, dan juga semua lingkungan yang telah kamu pilih
Ceritanya beberapa hari lalu sempet buka bersama temen SD sekalian reunian.Ketemu temen yang udah lama banget nggak ketemu. Sempet lucu ketemu Bachtiar, temen deket semasa SD, yang sekarang walau aku udah jenggotan dan dia udah kumisan tapi pas ketemu udah berasa lupa umur bercandanya.

Yang menarik dari pertemuan ini, kepolosan jaman-jaman SD itu udah nggak keliatan lagi. Udah ada yang jadi Presbem fakultasnya, udah ada yang sempet intern ke Jepang, ada yang lagi sekolah di Korea juga, ada yang mulai jalanin bisnisnya buka les-lesan, kerja di konsultasi pajak, promosiin produk kecantikan, sibuk cari beasiswa S2, skripsian, macem-macem lah.

Dan rasanya gak nyangka aja kalau inget-inget gimana bentuk kita pas masih SD dan gimana bentuk kita sekarang. Jadi keinget sama kata-katanya Austin Kleon di buku Steal Like an Artist, Karena kenyataannya kamu terbentuk lebih dari sekadar genetik orang tua, tapi juga semua nenek buyutmu, dan juga semua lingkungan yang telah kamu pilih.

"Avis yang dulu bukanlah Avis yang sekarang ... ", ucap Avis, temen SDku yang dulu pendiem banget dan sekarang udah bisa rame, jelas kata-katanya dilanjut gelak tawa semeja makan.

“Seseorang itu berada pada agama teman karibnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapakah yang dia jadikan teman karibnya.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ahmad)


Sahabat