Tipe Cewekmu Seperti Apa Yan?

Sontak pertanyaan itu membuat kedua mata ini terbelalak, tidak hanya diriku yang menjadi objek tanya, tapi juga mbak shifa yang diam di ruangan itu ikut terkejut oleh pertanyaannya.
*sok bahasa cerpen

Jadi sore-sore di Ditmawa, aku, mbak Shifa, dan mbak Lita, diem-dieman di ruang pak Aas. Sepi kayak gak ada orang. Aku lagi baca-baca artikel, mbak Shifa ngurusin surat, mbak Lita juga kayaknya. Dan entah bisikan dari mana tiba-tiba mbak Lita nanyain pertanyaan itu, "Tipe cewemu itu kayak gimana eh yan?"

Sebenernya aku ngerti mbak Lita ini tukang ngobrol gitu, mungkin pertanyaan itu udah tak anggep biasa antar cewek-cewek sana. Tapi bagian "gimana eh Yan", iya "Yan" nya itu loh yang bikin shock -- "kok aku jadi ikut-ikutan sih, njuk aku kudu njawab piyee...", dalam hati.

Setelah meliuk-liuk menghindari njawab pertanyaan itu, mbak nya nyeletuk lagi,
"Lah, masa kamu gak ada harapan yang jelas gitu yaan, yang sholehah kah, yang cantik kah, yang gimana gitu... kan ibaratnya milih laptop ya, kan kamu juga mesti punya spesifikasinya kan, masa kamu milih laptop pasrah aja"

Hmm... dan berkat analogi laptop dari mbak Lita, jadi bisa njawab,
"Ya kalau aku beli laptop sih mesti punya keinginan spesifikasinya mbak, tapi sebelumnya kan yang penting itu apa tujuan kita beli laptop, kan itu yang nentuin spesifikasi yang mau kita cari, nah sekarang apa coba tujuan kita nyari cewek itu, nikah? pinginnya pernikahan itu kayak gimana? tujuannya apa? nah itu yang harusnya bakal nentuin kita milih cewek yang kayak gimana buat nantinya"

Mbak Lita masih nanggapi, obrolan masih berlanjut, topiknya juga belum berganti. Tapi setelahnya aku jadi lebih merenungi jawabanku sendiri...

Khianat

Jadi baru-baru ini nemu film bagus untuk jadi bahan hiburan. Judulnya Arrow, film serial superhero dari komik DC. Filmnya bagus, ceritanya keren gitu, dan gak saru. (Barusan nonton 13 episode dan kalaupun ada adegan ciuman biasanya langsung bisa diskip karena mesti diawali dengan awalan yang "jelas" dan bukan adegan penting dari alur ceritanya)

Dan di episode akhir-akhir ini dapet sebuah hikmah yang menarik untuk jadi bahan renungan.
(bukan spoiler)
Apa yang akan kamu lakukan jika kamu tahu orang yang kamu percayai dengan sepenuh hati ternyata berkhianat? Ketika orang yang kamu rela berkorban untuknya ternyata adalah pembohong?

Apa yang akan kamu lakukan? marah? minta kejelasan? terus gimana kalau  misal kamu tahu pengkhianatannya secara diam-diam? misalnya kalau zaman sekarang karena gak sengaja mbaca smsnya, mbaca chatnya, atau karena gak sengaja aja ngelihat atau nguping pembicaraannya? apa yang akan kamu lakukan? Masihkah kita akan berprasangka baik?

jelas bakal "mbuencekno" di awal, tapi selain itu,
mungkin ada baiknya kita juga bercermin,

sudah seberapa baik kamu menjaga kepercayaan yang orang lain berikan kepadamu?

"Tanda orang munafik itu tiga apabila ia berucap berdusta, jika membuat janji mengingkari, dan jika dipercayai mengkhianati” (HR Al-Bukhari)

Semoga Allah menjaga kita dari menyakiti dan tersakiti oleh pedihnya pengkhianatan.

Sejenak Sebelum Makan

Ceritanya pagi ini sedang nemenin makan pagi pembinaan olimpiade bareng siswa dari SMA Negeri 3 Batam. Model pembinaan kami emang cukup beda, karena pembina, panitia, dan peserta akan duduk bersama dalam satu meja ketika makan. Jadi bisa bercanda dan mengenal satu sama lain.

Namanya Yossie, siswi yang ikut pembinaan bidang geografi ini berhasil ciptain renungan sendiri. Aku perhatiin dia setiap mau makan nundukin kepala dan khusyuk berdoa, dia non-muslim. Aku gak tahu apa yang diucapin karena bibirnya tertutup rapat, tapi aku yakin dia berdoa, karena melihat matanya yang terpejam dan tangannya yang menggenggam khusyuk sebagaimana cara berdoanya orang nasrani.

Tidak perlu waktu lama dia berdoa, kira-kira 8-10 detik saja. tapi waktu sesingkat itu udah jadi pukulan buat kita yang langsung menyuapkan makanannya.

Dalam Islam, doa sebelum makan yang dianjurkan adalah dengan menyebut asma Allah, "Bismillah," bahkan tanpa perlu embel-embel "Arrohmaanirrahiim." Sedangkan doa "Allahumma bariklana ...," hadits yang menganjurkan doa tersebut sanadnya adalah dhoif alias lemah alias tidak bisa diamalkan.

Seberapa lama waktu kita yang muslim untuk mengucapkan doa tersebut? mengucapkan "Bismillah"? tidak sampai 2 detik? tidak sampai 1 detik? lalu seberapa sering kita makan bersama setan hanya karena lupa mengucapkan doa tersebut.

Semoga bisa jadi renungan bersama, banyak amalan kecil yang mudah kita lakukan, tapi kita pun biasa untuk melupakan.

"Bismillahi fii awwalihi wa aakhirihi" (doa ketika lupa mengucap bismillah di awal makan)


*referensi penjelasan tentang doa sebelum makan:
https://rumaysho.com/1114-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html

2 Mei Tahun Ini

Udah gak denger lagi pidato dari kemendikti pas upacara,

yang rame ya #SaveAleppo, ketika rumah sakit di hujani bom, jalanan dibanjiri darah anak-ibu-bapak, entah apa dosa mereka, sedangkan dunia diam dalam berita,

yang rame lagi #NyalaUntukYuyun, gadis remaja yang menghadapi kebejatan 14 pemuda peminum alkohol, tuh kan Pak Gubernur, alkohol mah gak ada baiknya,

lalu juga ada kisah #Feby, yang harus menemui ajalnya karena himpitan ekonomi seorang cleaning service, bukan di hutan, di kampus, di mana ada banyak petugas keamanan, miris

sebelumnya paginya ada #bUKTicinta #UGMbersatu, ledakan masalah yang seakan menunjukkan sisi buruk dunia pendidikan sekarang, penuh cerita, penuh suara,

Udahlah, emang gak ada yang perlu dirayakan, toh, cuma ada 2 hari raya,
yang ini, cukup didoakan....

Sahabat