Hei Aku Butuh Saran

Jadi insyaAllah aku berniat ambil S2, setelah hampir 4 tahun menggeluti bidang komputer di Ilmu Komputer UGM. Terus malem ini kepikiran dengan dua pilihan yang bikin galau, galau bangetzz malah (pake 'z' dua kali). Jadi butuh kalian untuk minta saran (aku harap kalian tentukan pilihan jawaban kalian sebelum baca penjelasanku di bawahnya):


1. Kuliah S2 di Universitas ****  swasta gak terkenal yang juga mahal tapi di bidang komputer
2. Kuliah S2 di Harvard dengan beasiswa full tapi di bidang akutansi


***

Bingung? sama.

Sebenernya itu adalah analogi dari pernyataan yang lagi rame akhir-akhir ini:
"Mending Milih Pemimpin Non-Muslim Tapi Adil dari pada Pemimpin Muslim Tapi Koruptor"


Mohon maaf, tapi aku langsung meragukan pemikiran seseorang yang dengan mudah menyatakan pernyataan tersebut terkhusus untuk kasus terhangat pemilihan gubernur yang mayoritas warganya muslim. Emang semua muslim (termasuk dirimu) di situ koruptor semua? Emangnya tahu dari mana non-muslim yang dicalonkan itu akan adil kedepannya?

Sebenernya yang aku bicarain terlepas dari muslim dan non-muslimnya sih, terlepas dari apa jawaban "Mana yang terbaik memilih pemimpin muslim tapi koruptor atau non-muslim tapi adil", tapi aku rasa orang yang punya pertanyaan (sejenis) ini berpikiran sempit bangetzz (pake 'z' dua kali juga) apalagi di kondisi negara sekarang ini.


1. Kuliah di Universitas ****  swasta gak terkenal yang juga mahal tapi di bidang komputer
2. Kuliah di Harvard dengan beasiswa full tapi di bidang akutansi

Kalau ndak percaya, coba bantu jawab pertanyaan itu, bayanganku kalau orang aku tanyain kegalauanku itu, jawabannya pasti "Emang ndak ada opsi lain?"

ya, tentu saja, masih banyak opsi lain :)

Gak ngerti lagi deh, semoga keluarga, kerabat, dan semua umat muslim bisa terjaga dari pembawa keraguan dan kebingungan ini.

#analogi

Mengenal Orang Jakarta: Mungkinkah?

Halaman 85 dari buku "Tiada Ojek di Paris" karya Seno Gumira Ajidarma. Buku yang menarik, sampai-sampai gak mau aku cepet habisin bacanya.

"Saya kira saya sudah lebih dari lima belas tahun saya selalu melihat kura-kura (peliharaan) itu berenang, makan, merayap ke sana kemari. Namun baru belakangan saya sadari, betapa saya tidak tahu sesuatu pun tentang kura-kura itu: mestinya makan apa, bagaimana sifat-sifatnya, berapa lama ia hidup, dan macam-macam hal yang ringan-ringan saja-boro-boro nama dalam bahasa Latin-nya, Sudah lima belas tahun makhluk itu ada di depan saya tetapi bahkan jenis apa kura-kura itu saja, saya tidak pernah berusaha mengenalnya. Mana yang jantan dan mana yang betina saja saya tidak tahu. Tidakkah ini keterlaluan? Tapi, kita semua sering melakukan hal yang sama."

Iya juga, dari pada kita mengenal seseorang dari fakta, kebanyakan dari kita cuma mengenal dari "dzon" alias dugaan saja. Dugaan yang bisa terbangun dari pengalaman, kesirikan orang, pujian, cibiran yang kita dengar, atau hanya dari pandangan mata yang lemah.

Do You Remember?

ceritanya nemu ini di 9gag, terus kebayang, langsung tutup 9gag, IYKWIM

Yogyakarta

Walau kini kau t'lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Ijinkanlah aku untuk s'lalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati


Kalau bisa dibilang, Jogja adalah kota kedua yang paling berkesan. Entah apa yang direncanakan Allah, tapi beberapa kali aku ngerasa ditakdirin untuk dekat dengan kota ini.

Dulu pas masih kecil ke Jogja ini inget karena punya Bude yang baik banget dan tinggal di sini, punya rumah bagus, yang ada banyak barang yang bisa "dimainin". Juga beberapa kali inget pernah ke sini ikut nonton pernikahan anak-anaknya Bude yang cewek semua dan dokter semua... Sekarang De-Dah (panggilanku untuk Bude Wardah) sudah semakin berusia, anak-anaknya juga sudah punya anak bahkan udah ada yang mau SMA, De-Dah sudah jarang di Jogja, seringnya muter-muter ke rumah anak-anaknya yang tinggal jauh-jauh, waktu berlalu cepet banget ya rasanya De?

Pas SMP pernah diajakin lomba sama Pak Yani, Bareng Hoki dan Ratna kita ikut lomba cerdas cermat yang seleksinya di Surabaya. Kerja bareng Ratna dan Hoki bisa jadi pelajaran banget, ketemu sama orang yang jago ngomong (bahasa inggris juga) kayak Ratna dan jago menghafal kayak Hoki rasanya keren banget. Dan Alhamdulillah, lomba ini nganterin aku ke Jogja. Naik pesawat pertama kali, masuk TV Nasional pertama kali, ketemu Artis pertama kali, dapet HP pertama, juga ketemu dengan orang-orang pinter di seluruh Indonesia (aku masih inget beberapa namanya loh :) ada Ryan, Komang, Petra, Nanda, err.. yang dulu saling kenal sih cuma Ryan dan Nanda dari Malang :v yang lain keinget karena namanya unik, apa kabar?). Rasanya beruntung banget, karna waktu itu aku sekolah di SMP yang bahkan bukan terbaik di Surabaya.

lombanya di depan Prambanan, panas banget, tapi kita dapet susu gratis dan bisa ambil sendiri :)

Ke Jogja untuk lomba lagi ketika udah bisa ngoding, lolos final PCS Joints UGM. Setim sama Punjung dan Anton, bareng mas Rizky berpetualang ke Jogja. Dateng-dateng di Jogja, karena hotelnya belum bisa masukin akhirnya jalan manjat ke Kaliurang sambil bawa tas isi laptop dan baju untuk 2 hari .__. (dulu ini ide siapa sih --") jalan-jalan ke Malioboro, terus beli gantungan kunci berbentuk kalung batik, yang... ya kalung batik ini bener-bener kenangan banget, bukan cuma tentang lomba sih, tapi jauh lebih dalem haha, udah aku jaga setengah mati kalung batik ini sampe akhirnya hilang bersama flashdiskku semester kemarin karena otak mulai melemah untuk nginget naruh barang T.T

lihat tas yang di depan itu? kayaknya sebagian lagi masih ada di balik kamera ._.
Ibukku pingin banget nyuruh aku jadi Dokter, pas Kelas 3 SMA bener-bener di paksa untuk daftar FK Unair. Tapi rasanya gak sreg (aku gak "tegaan" lihat orang berdarah-darah) dan tetep ambil komputer. Sempet kepikiran ambil STEI ITB atau Fasilkom UI, sampe akhirnya mulai nyadar tentang hitung-hitungan biaya hidup, ya sudahlah insyaAllah mantep kuliah di Jogja. Kuliah di kota yang penuh kenangan yang jadiin aku pakai handlename "malioboro" di lomba-lomba CP.

yang tak inget cuma deska dan hafidz, ._. bahkan ketua kelompoknya aku lupa namanya
Malem ini sambil nggarap paper tiba-tiba denger lagu dari Kla Project, Yogyakarta. Sebenernya ayahku udah sering nyetelin lagu ini dulu, jauh sebelum momen itu. Tapi setelahnya, lagu ini kalau denger selalu bikin visualisasi masa-masa paling indah di Jogja di mana aku denger lagu ini juga, kalau dideskripsiin apa yang aku bayangin:

Di bawah langit malam berbintang, di rumah makan dengan suasana hangat, hembusan angin bukit, kelap kelip lampu Jogja, bersama mereka... ngobrol tertawa...

romantis kan? :"


Jadi kebayang, mungkin setelah ini lagu ini juga gak bakal cuma ngevisualisasiin kenangan itu, akan lebih kompleks, lebih lengkap, lebih panjang, lebih banyak, lebih ramai, lebih berwarna...

Kerja, kerja, kerja

Bermula dapet tawaran magang di Subdit Kreativitas Mahasiswa UGM dari Mas Bondan pas lagi sibuk ngurus Gemastik di akhir semester 6 lalu. Karena dulu mikirnya semester 7 bakal selo ya sudah nyoba daftar dengan bikin CV sederhana, majuin diri sebagai "Graphic Designer" karena pas itu mereka juga lagi nyari tukang gambar.

Diterima, dikenalin sama orang-orang dikantornya, ketemu sama Tohir, anak sastra Arab yang juga parttimer dan ternyata juga ikut lomba MTQ. Ada Pak Aas (big bos), Pak Yus (2nd big bos :)), Bu Peni, dan Pak Har yang jadi tim awal di subdit ini (Pas aku nulis ini tim kita udah nambah Bu Tari dan Mbak Shifa). Kantor ini kebetulan punya visi yang gak beda jauh sama OmahTI, mengayomi para calon juara UGM dari persiapan lomba, akomodasi, sampai insentif juara.

Yang aku kerjain di sini?
Pertanyaan itu sering banget ditanyain sama temen, jadi aku jawab di sini aja, banyak. Sebagai desainer grafis, aku ngurusin hampir setiap publikasi oleh subdit ini, bahkan juga tim PKM center sering minta bantu desainin co-card atau xbanner atau poster atau buku. Pihak Direktorat juga sempat minta tolong ndesain beberapa poster (salah satunya "Hak dan Kewajiban Mahasiswa" yang sering aku lihat ditempel di setiap fakultas :3). Aku juga jadi koordinator desain buletin yang terbit (selalu terlambat) tiap bulannya, koordinator karna beberapa buletin aku kerjain bareng sama Ali Imran. Tahun lalu kerja bareng Gama Press untuk bikin buku "Kreasi dan Inovasi Mahasiswa UGM 2015" buku kumpulan prestasi mahasiswa UGM. Ya, yang menarik akhirnya jadi lumayan ngerti Gamapress dan bagaimana rule-rule yang ada dalam dunia percetakan.

Selain itu aku juga dapet kerjaan lain karna ketahuan dari Ilmu Komputer, yak, ngurusin websitenya. Untungnya karena pakai wordpress jadinya per-maintenance-an nggak terlalu sulit. Setting Plug-in, layout, desain web, sampai penambahan fitur dan fungsi sesuai rekues atasan. Juga ngasih konten seperti liputan-liputan yang dibuat Tohir, halaman-halaman, dan sistem pendaftaran Jawara UGM.

Dan pekerjaan administrasi lainnya,.. salah satu yang aku pegang adalah mengentry, membuat list, merapikan data prestasi mahasiswa yang ada di UGM. Dan menjadi petugas IT PKM Center, yang mengurus pengentryan data inputan PKM.

Kok betah udah hampir setahun di sana?
Entah, tempat ini menarik banget, aku belajar banyak tentang dunia perkantoran di sini. Belajar bagaimana birokrasi bekerja. Belajar ngoperasiin mesin fotocopy :D Merasakan jadi customer service ribuan mahasiswa yang ikut PKM dan prestasi-prestasinya yang masuk tiap hari. Kerjanya juga fleksibel, kita lebih sering santai kalau di kantornya, lebih banyak kerja di luar kantor ._. bahkan sabtu-minggu.

Ada nggak enaknya di sana?
Mesti adalah, salah satunya ya karena terlalu fleksibel jadi kadang mesti kerja padahal lagi libur dan sebagainya. Tapi, paling gak seneng kalau ada mahasiswa yang nganggep kita ini "pembantu" mereka. Ini jadi pelajaran banget buat aku juga, kalau kerja begini ini keras juga, capek juga. Dan kalau ada mahasiswa yang dengan asal "tolong ini, tolong itu, besok jadi" pesan singkat penuh "makna" ini kadang nggak tak tanggepin dan tak bales dalam hati "koen iki sopo? bosku juga bukan, minta tolongnya gak sopan gitu --"

Sampai mau kapan di sana?
Pinginnya sampai dapat beasiswa S2, di sini ada tiga anak yang juga lagi ngejer S2. Selain Tohir, ada satu lagi yang juga jadi partimer di sini, Mbak Shifa, dan kalau ditambah aku kita bertiga jadi sering sharing-sharing untuk dapet beasiswa S2 atau belajar-belajar bahasa Inggris. Tohir pingin ke Perancis, dia udah lama les bahasa Perancis (Padahal dia anak sastra Arab --"). Mbak Shifa maunya ke Inggris (kalau gak salah .__. ) ngelanjutin ilmu peternakannya di sana. Mudah-mudahan nanti kita bisa "Quit" bareng-bareng :D *dalam arti dapet S2 barengan cepet, bukan lama-lama

Tapi terlepas dari semua itu ada satu pelajaran yang bener-bener aku dapet di sini, "Hargai setiap pekerjaan orang, walau kecil" kadang kita nganggep beberapa pekerjaan itu remeh, kayak "ah cuma staff TU", "Ah, cuma OB", dan sebagainya. Tapi kita gak akan pernah tahu apa yang sebenernya dilakuin orang itu, seberapa berat pekerjaannnya, seberapa besar beban tanggungannya. Dan kita yang mungkin belum pernah kerja keras ini asal aja bilang "Ah cuma ....", panteskah?

Post-Skripsi Syndrome

...
Di atas sajadah yang panjang ini, Diselingi sekedar interupsi,
Mencari rezeki mencari ilmu, Mengukur jalanan seharian,

Begitu terdengar suara adzan, Kembali tersungkur hamba 
... 

Sejak mulai yang namanya mencari nafkah secara "serius" dan udah gak disambi kuliah. Rasanya yang kepikiran suatu pertanyaan sederhana "untuk apa sih kita kerja?"

Terus pertanyaan itu jadi kebawa ke pertanyaan selanjutnya.  Apa sih target akhir sebuah "bekerja" itu dikatakan berhasil? Ketika mendapat miliaran omset? Ketika bisnisnya sudah memonopoli pasar? Ketika kita sudah bisa mendapatkan pemasukan hanya dengan duduk terkantuk-kantuk?


Terus berlanjut kepertanyaan selanjutnya, kayak seberapa keras kita harus bekerja? apakah kita harus berkonsentrasi penuh menghabiskan waktu kita untuk mencapai target akhir yang masih belum jelas juga jawabannya?

Rasanya aneh ketika kita ngelakuin sesuatu yang kesannya gak ada ujungnya. Kita belajar pas sekolah atau kuliah ya biar dapat ilmunya yang bisa berimpas ke nilai yang bagus, terus lulus, selesai. Jelas.

Tapi bekerja? gimana dong?
Terus malam ini jadi inget sama perspektif dari lirik lagunya Bimbo berjudul Sajadah Panjang, yang aku yakin terinspirasi jelas dari Al-Quran dan Hadits.
Hidup ini seperti sajadah panjang, tempat beribadah, dan bekerja itu hanya "interupsi".

Jadi sekarang kalau ditanya apa alasan kamu mencari nafkah?
sementara ini yang bisa aku pikir jawabannya, aku cuma mau menghidupi 3 orang, aku, orang tuaku, dan calon istri dan anakku nanti. Sudah. Bukan mencari miliaran omset yang gak jelas juga akan dibawa kemana nantinya.

Sahabat