Hikmah dari Merauke [5]

Kalian adalah programmer-programmer keren dari timur yang pernah aku temui :)
"Bagaimana pendidikan di sana?" Ada satu hal yang cukup berkesan ketika berbicara tentang pendidikan di Merauke, hasil ngobrol dengan Pak Gerzon, Bu Lilik, Pak Sus, dan Pak Jono. Yakni adalah tentang mindset orang merauke tentang pendidikan tentang semangat untuk belajar. (sebelumnya saya perjelas, ini bukan maksud memukul rata, opini ini hanya berdasarkan dari cerita-cerita pengajar di sana)

Semangat belajar adalah suatu yang sangat berharga di sana. Karenanya di kampus, aturan dibuat tidak sekeras dan seketat pada umumnya di Jawa. Ada cerita mahasiswa yang bisa tidak masuk 2-3 minggu karena menemani orang tuanya berburu. Dan juga jangan kaget jika banyak mahasiswa yang memiliki usia yang bahkan lebih tua dari pengajarnya. Ya itu karena semangat adalah sesuatu yang berharga, ketika mereka memiliki semangat itu, maka ada baiknya untuk tetap dikobarkan tanpa mengecilkan. Bayangkan saja ketika kau memiliki semangat untuk belajar, tapi keluarga, masyarakat, bahkan pemerintah sendiri masih banyak yang mempertanyakan kenapa harus belajar begitu tinggi? kalau bukan pihak kampus yang terus menyemangati lalu siapa lagi?

Dan di kampus ini, kalian bisa merasakan bahwa aura belajar sangatlah tinggi. kampus berhasil memfasilitasi orang-orang yang memliliki semangat untuk belajar, sehingga bisa terasa ketika workshop kemarin mereka tidak terlihat ogah-ogahan untuk belajar, bahkan mereka relatif cukup aktif mengikuti alur kelas. Jangan mengira ilmu mereka tertinggal jauh, mereka tidak berbeda jauh dengan mahasiswa di Jawa, bahkan beberapa saya rasa sangat cerdas.

Ada seorang mahasiswa yang cukup berkesan bernama Simson, perawakannya seperti bagaimana bayangan orang-orang ketika ditanya tentang masyarakat Papua. Besar, berkulit gelap, berambut keriting, berasal dari desa yang cukup jauh dari kampus, dan ketika bersalaman kau bisa merasakan sudah seberapa banyak pengalaman kehidupan telah melalui tangannya. Tapi yang bisa dicontoh dari dia adalah bagaimana semangat dia untuk belajar pemrograman. Dia benar-benar pantang menyerah! melihat dia ngoding lebih mirip melihat dia sedang berusaha memburu "masalah" dengan bersenjata "program" yang dia buat. Tidak menyerah. Dengan semangat yang besar itulah ilmu bisa datang kedirinya.

Semoga semangat belajar itu terus terjaga di hati mereka, semangat untuk memajukan Indonesia dari timur. Kalian adalah programmer-programmer keren dari timur yang pernah aku temui :)

Itulah Indonesia! beda dengan Singapore yang hanya secuil dengan sedikit suku, di sini permasalahannya itu, Indonesia itu luas dan beragam suku dan pemikirannya pun beda-beda. Itu jadi tantangan untuk memajukan Indonesia - Pak Anif

Hikmah dari Merauke [4]


Diambil dari jendela kamar hotel
"Loh Pak, di sini ini atap rumahnya pakai seng semua ya? apa tidak panas?", salah satu pertanyaan yang muncul dari kami setelah memperhatikan  ciri rumah yang unik-unik. Selain beratap seng, rumah di merauke bentuknya biasanya hanya kotak biasa tanpa bentuk yang aneh-aneh, punya halaman luas yang mengitari rumah, dan pagar yang terbuat dari seng atau kawat berduri.

"Ya di sini genteng mahal, mampunya hanya beli seng, ya seng aja yang dipakai untuk atap rumah. Kalau panas, ya jelas panas", Jawab Pak Gerzon.

Sekilas langsung kebayang dengan isu beberapa waktu lalu yang bensin di sini harganya sempat mahal sekali. Juga jangan tanya harga barang-barang lainnya. Di sini belum ada Alfamart atau Indomaret. KFC saja baru ada satu yang buka beberapa waktu lalu. Kadang, kita ngerasa Indonesia itu sudah cukup maju di Jawa, tapi setelah di sini, kita bener-bener bisa ngerasain yang namanya gap dalam ekonomi terasa sekali.

Di hari-hari terakhir saya sempat bertanya ke salah satu dosen di Universitas Musamus, "Bu, Ibu kan pernah tinggal di Jawa, kalau menurut Ibu, perbandingan Gaji dan pengeluaran di Jawa sama di Merauke sama tidak bu?".. "Beda, jauhlah, ini saya masih baru-baru ini gaji saya naik mas, dulu gaji saya masih tidak banyak-banyak sekali. Teman saya juga masih banyak yang gajinya rendah. Padahal biaya hidup di sini lumayan mahal toh?"

*catatan: semua dialog ditulis secara kira-kira berdasar ingatan saya

Hikmah dari Merauke [3]

Gereja Katolik, Gereja Protestan, difoto dari tempat wudhu Masjid
Hari Selasa, hari pertama kalinya ke Universitas Musamus. Kesan pertamanya: Universitas ini guede banget. Cuma masih banyak tanah yang kosong dan gedung yang sedang di bangun. Yakinlah, 5-10 tahun lagi Universitas ini bisa kelihatan keren banget.

Salah satunya dari beberapa bangunan yang sedang dibangung, yang menarik adalah tiga gedung yang berada di sisi Universitas ini. Ketiga gedung tersebut adalah Gereja Katolik, Gereja Protestan, dan Masjid yang dibangun berdekatan. Untuk kedua Gerejanya belum bisa ditempati namun untuk lantai 1 Masjid sudah bisa digunakan untuk Sholat berjama'ah. Rasanya adem banget, setelah di Jawa diributkan dengan kehebohan pejabat yang melecehkan Agama, dan sikap beberapa oknum yang malah menginjak-injak roti, di sini bisa dapet cerita lain tentang bagaimana itu toleransi beragama :)

--Catatan seputar toleransi beragama--
Sedikit intermezzo tentang sikapku dalam makna toleransi beragama. Toleransi beragama artinya saling menghormati antar-agama, tanpa sampai menyalahi syariat agama itu sendiri.

Dalam Islam, berinteraksi, bekerja sama dengan non-muslim, adalah contoh toleransi beragama. Tidak mengganggu ketika mereka ibadah juga salah satunya. Namun, hati-hati, dalam Islam "mengucapkan selamat" tidak dihitung toleransi karena sudah menyalahi syariat agama. Hal ini sudah otonomi agama Islam, urusan agama lain mempersilahkan mengucapkan selamat ke perayaan agama lain itu kembali ke otonomi agamayna sendiri,

Mudahnya, bayangin kenapa di Islam harus sholat 5 kali sehari sedangkan di Kristen hanya 1 kali seminggu, Kita tidak perlu mempertanyakan bukan? atau malah mengatakan "Kita seharusnya toleransi dengan mengurangi ibadah kita"(?)

Bacaan lain seputar toleransi:
https://buletin.muslim.or.id/aqidah/toleransi-terhadap-non-muslim-dan-batasannya

Hikmah dari Merauke [2]

Saya gak tertarik minta difotoin selama di sana, kecuali pas sama beliau ini
Hari pertama (12-12-16) kedatangan ke Merauke kita langsung pilih untuk muter-muter dulu mumpung masih belum mulai ngajar. Kita pergi ke Soka, sebuah distrik (kecamatan) yang bener-bener berbatasan dengan Papua Nugini. Untuk masuk ke daerahnya kita harus buka jendela mobil, naruh KTP, sambil dilihatin tentara penjaga. Awalnya aku agak nyesel gak bawa paspor, tapi ternyata kita masih bisa masuk ke daerah Papua Nugini tanpa paspor untuk jarak yang tidak terlalu jauh :) (Keluar negeri lagi, yay!).

Sepulang dari luar negeri (eyak) kita mampir ke rumah salah satu warga yang kata Pak Gerson cukup disayangkan kalau tidak bertemu dengannya, namanya Pak Ma'ruf. Beliau adalah Kapolsek Sota yang tidak hanya membantu menjaga perbatasan tapi beliau telah memiliki andil besar dalam menghidupkan kecamatan Sota ini. Kita mampir, bertemu beliau sedang memberi makan rusa dan kasuari yang dia jaga.

Beliau adalah sosok yang luar biasa. Beliau telah  mengabdi ke warganya, ke lingkungannya, bahkan ke masyarakat Papua Nugini, beliau menyumbangkan harta, tenaga, dan pikirannya. Benar-benar sosok yang sulit diceritakan dengan kata-kata. Mengobrol dengan beliau sebentar saja sudah cukup untuk kita merasakan seberapa besar semangat, komitmen, dan kontribusi beliau ke masyarakat sekitar.

Ada beberapa kata-kata beliau yang masih teringat sampai sekarang:
Saya selalu pakai seragam, hari libur pun saya tetap pakai seragam, karena tidak berseragam berarti tidak sedang dinas, dan bagaimana mungkin seorang polisi itu tidak berdinas atau berlibur?

Jika Indonesia mau belajar tentang toleransi beragama, datang ke Merauke, di sini tidak ada yang namanya kayak yang terjadi di Jawa sana, di sini tenang. Semua umat beragama saling membantu

Dan, malamnya, entah kenapa saya ingin googling untuk mengenal beliau lebih lanjut di kamar hotel. Dan salah satu hasilnya:
http://news.detik.com/tokoh/2937075/maruf-sang-pendamai-wilayah-perbatasan-ri-papua-nugini

Hikmah dari Merauke [1]

Rumah semut, atau mereka menyebutnya "Musamus", tingginya sampai 5 meter
Alhamdulillah, nikmat yang gak pernah disangka diperoleh tahun ini dapet kesempatan pergi ke batas timur Indonesia, Merauke. Kurang dari seminggu tiba-tiba lembaga pendidikan kami, Jogja Science Training, dikontak universitas di Merauke untuk mengadakan pelatihan Model Praktikum Algoritma dengan Sistem Kontes, memberi pelatihan penggunaan grader untuk praktikum algoritma yang juga sudah diterapkan di UGM. Universitas Musamus, salah satu universitas besar di Papua, adalah universitas tempat kerjasama kami.

Ada banyak cerita yang mau aku bagi dari timur sana. Tapi untuk kali ini kita mulai dari nama "Musamus". Ya, nama universitas ini berarti rumah semut, yang kata Pak Gerson, pejabat keuangan universitas yang ramah sekali mau menemani kita, memiliki filosofi: karya yang besar itu bisa dihasilkan dengan kerja sama yang baik bahkan dari makhluk yang terlihat sederhana sekali. Simbol semangat luar biasa dari masyarakat Indonesia Timur yang sering kita anggap sedikit tertinggal.

Yang susah dari mencari ilmu

Yang susah dari mencari ilmu itu ketika kita sudah tahu sebagian. Di saat itu kita bakal diuji untuk tetap rendah hati, tidak sombong, tidak merendahkan orang lain, dan di lain sisi kita tetap harus semangat belajar.

Jangan sampai gara-gara ilmu sebagian itu kita jadi sudah merasa cukup ngerti untuk berbicara layaknya penuh ilmu, atau merendahkan semuanya bahkan yang sebenarnya lebih berilmu.

Hati-hati, ilmu layaknya air, hanya mengalir ke hati yang rendah

---

catatan ingatan dari kajian beberapa tahun silam, renungan bersama untuk kita semua, termasuk saya khususnya

Hobi

Hari ini ketemu sama mas-mas usia 30-an dengan baju pegawai lengkap dan muka capek di masjid sebuah bank. Enggak tahu masnya itu pegawai bank itu atau bukan, tapi yang jelas mas ini lagi istirahat sepulang kerja.

Setelah sholat, sambil istirahat jadi merhatiin mas-masnya yang masih duduk serius nulis-nulis di kertas. Awalnya aku ngira, "wah mas ini mesti banyak pikiran ya sempet-sempetnya ngerjain kerjaan di sini". Tapi pas berdiri dan jalan lewat di depan masnya, ternyata mas-mas ini bukan nulis.. dia sedang sibuk menggambar! iya menggambarnya pun bukan cuma sekedar gambar di kertas coret-coret buku tulis, karena yang jadi media gambarnya adalah sebuah sketchbook. Sayangnya karena mata agak minus jadi gak tahu persis apa yang dia gambar tapi yang kelihatan mas itu lagi serius menikmati proses mensketch sesuatu yang mirip karakter orang.

Aku jadi inget kata-kata dari beberapa buku "kreativitas" yang intinya menganjurkan seseorang untuk punya hobi. Karena di rutinitas kesibukan dunia kerja, hobi akan menjadi penyelamat penghibur kita. Dan hobi pun tidak harus mahal, jalan kaki keliling kompleks atau duduk-duduk di pinggir jalan mengamati orang itu hobi, menggambar pun juga.

Dan yang jadi pikiranku selanjutnya teringet dari kata-katanya Baskoro yang bercerita tentang "cinta" di bit.ly/kamupantasbahagia (barusan cek linknya dan ternyata artikelnya sudah update dari dulu yang cuma bentuk ppt). Ketika kita mau memulai untuk hidup "bahagia" dengan seseorang, kita harus sudah bisa menemukan kebahagiaan ketika kita sendiri. Sehingga nantinya ketika kita bersama, kita tidak menuntut untuk diberi "kebahagiaan" tapi fokus memberi "kebahagiaan". Ya, dan memiliki hobi yang positif adalah salah satu cara untuk menciptakan "kebahagiaan" ketika sendiri :)

Apakah kamu menjadi budak dunia?

Sebuah pertanyaan yang bikin merenung dalem tiap lagi penat sama kesibukan yang macem-macem. Terus biasanya mulai dari keinget video di bawah ini:


Terus kata-kata Yudha, "Kalau kamu banting tulang dari pagi sampai malem, dengan niatan untuk menabung, untuk memudahkan kamu menikah, untuk menafkahi keluargamu, maka insyaAllah itu kebaikan"

Terus juga, "Kalau kamu pernah berdoa ingin bermanfaat bagi orang lain. Mungkin kesibukan ini adalah salah satu jawaban doamu. Niatkan untuk itu"

Terus, "Sambil tarik nafas, terus dzikir kalau ada waktu luang, biar tenang biar plong"

Kadang itu nenangin banget, tapi toh kita gak pernah tahu kesibukan kita itu adalah awal kebaikan atau sebenarnya cobaan karena kelalaian kita, na'udzubillah. Tapi yang bisa kita coba adalah berdoa semoga kita diselamatkan dari kesibukan yang sia-sia, dan terus ngerenungin pertanyaan yang cuma bisa kita sendiri yang jawab, "Apakah kamu telah menjadi budak dunia?"


Ex-Lab Inovasi

Akhir-akhir ini jadi sering keinget sama OmahTI gara-gara ngejer nyiapin sertifikat kepengurusan (yang niatnya jadi kado wisuda, tapi gagal gara-gara tas kadonya kekecilan). Terus beberapa hari lalu nyempetin main ke Milan buat lihat gimana bentuk Ex-Lab Inovasi itu sekarang.

Dan ya karena emang sudah pindahan jadi bisa dibayangin: papan namanya sudah dicopot, dalemnya sudah berantakan berdebu, bener-bener sudah gak kerasa hidup. Kerasa beda banget sama terakhir kali aku ke sana.

Terus yang jadi renungan adalah nama "Lab Inovasi" itu. Dulu pas masa kepengurusan aku ngerasa inovasi kita itu kurang, kita ndak pernah (atau sangat jarang) mencoba teknologi-teknologi baru untuk diimplementasikan. Sempet sebel dan sedih juga pas itu.

Tapi setelah lulus, dan ngelihat beberapa temen yang udah kerja diperusahaan IT ataupun non-IT. Aku ngerasa dulu itu rupanya kita sudah inovasi banget, kita ikut lomba membuat ide yang belum ada sebelumnya, berkreasi untuk menciptakan solusi permasalahan-permasalahan yang ada. Beda banget dengan di dunia kerja, kita memang tetap ngoding dan "membuat sesuatu" tapi daripada dibilang inovasi, aku lebih ngelihat unsur bisnis di sana. Kita bekerja untuk dibayar orang lain. Mengerjakan proyek yang yah itu-itu saja. Tersitanya waktu dan tenaga cuma terbayar dengan kepuasan materi.

Jadi rindu dengan masa-masa kita berkarya tanpa memikirkan uang yang akan kita peroleh.
Apa kabar lab Inovasi yang sekarang?

udah kayak ditinggal lama banget

Haha, jadi inget momen-momen seru dulu dari kantin OTI

walau gak bisa main, tapi masih inget ributnya sekre kalau udah pada main

dulu aku loh yang bikin logo OmahTI di pojok sana

Bogor [3]: Karena apa kau mencintainya

Ada sela-sela waktu kosong pas kegiatan PIMNAS di sana, beberapa kali diisi lihat-lihat IPB, ke bazar PIMNAS, atau duduk-duduk ngemil, atau ngobrol bercanda biar semakin kenal.

Suatu waktu pas kita ngobrol rame-rame antara kaum Adam. Dan entah lupa gimana awalnya tiba-tiba ada yang memulai topik untuk ngomongin seorang cewek. Ceritanya, ada seorang cewek yang emang lagi jadi bahan obrolan "favorit" di antara para cowok pas di PIMNAS sana. Awalnya aku ngira ini cuma kayak "rahasia umum", yang masing-masing saling tahu kalau cewek itu menarik tapi ndak akan ada yang berani mengobrolkannya, sampai akhirnya aku dapet kesempatan duduk di dalam ruang obrolan itu.

-ini sedikit fakta kecil, kadang cowok juga bisa nge-gosip-

Obrolan sudah mulai panjang mbahas cewek itu, tapi yang menarik dimulai ketika muncul pertanyaan:

A : "Eh menurutmu apa ya yang bikin dia menarik ya?"

B : "Hmm.. apa ya, manis sih senyumnya"
C : "Mirip artis itu bukan sih"
D : "Suaranya eh yang bening gitu"
E : "Ya emang udah cantik sih orangnya"

Sebenernya lumayan panjang dan juga saling lempar percakapannya. Tapi yang menarik yang jadi pikiranku pas itu,

"Apa tidak ada dari kalian yang coba perhatikan perangainya?"

oke, toh mereka juga tidak terlalu lama mengenalnya, jadi wajar sih. Dan mungkin sebenarnya pas pertama aku kenal cewek itu juga pikiranku tidak jauh beda dari mereka.

Menurutku, untuk kasus obrolan ini terjadi memang karna adanya kombinasi antara kita para cowok yang terlalu liar pandangannya dan para cewek yang terlalu mudah menebar dan menunjukkan kecantikannya. Tidak hanya salah satunya, dan kita tidak bisa saling menyalahkan kaumnya.

Tapi sebenernya sedih juga kalau ngeliat ada cewek yang diobrolin cowok-cowok karena kecantikannya. Kenapa? karena apakah nantinya itu yang menjadi alasan bagi kalian para cowok untuk mencintainya? dan apakah itu yang jadi harapan nantinya mereka akan mencintai kalian para cewek? Bukankah ada yang lebih mulia untuk dijadikan bahan penilaian?

Dan semoga pandangan kita para cowok bisa semakin terjaga, jangan sampai nantinya kecantikannyalah yang menjadi pertimbangan akhir ketika memilihnya. Dan aku berharap, semoga adekku, atau anakku (nanti) yang cewek atau semua kerabat cewek di dekatku, tidak dinilai oleh cowok-cowok di sekitarnya karna kecantikannya, karena rupa atau parasnya. Semoga kita dan mereka bisa dikuatkan untuk terus menjaga diri.

Bogor [2] : Cendekiawan


Hari pertama di Bogor untuk membantu mempersiapkan keperluan kontingen PIMNAS UGM, dimulai dengan masalah konsumsi. Sempet kasihan lihat pak-pak ibu-ibu yang baru aja dateng gak ngerti apa-apa dan tiba-tiba harus mencari konsumsi di kota yang baru aja dikunjungi. Tapi ya gitulah dunia kerja.

Setelah muter-muter cari tempat dan melewati macet yang agak ndak karuan akhirnya berkat bantuan Pak Henri sebagai supir kita di sana dapatlah warung makan ayam kampung yang menyediakan menu yang cocok untuk semua kalangan.

Semua kalangan? iya kalau diinget salah satu bahasan paling sering selama kerja -parttime- di kantor ini adalah ke-wangun-an (kelayakan) sebuah makanan untuk disajikan ke kalangan tertentu. Karena percaya atau ndak, aku sering banget denger cerita ibu-ibu yang "ditegur" hanya karena pesenan makanan kurang wangun walaupun kalau menurutku makanan seharga 25-30ribu perkotak itu sudah sangat wangun.

Dan hal itu kejadian lagi kemarin pas di Bogor, datang lagi teguran karna makanan yang disajikan malam sebelumnya kurang "sip" atau layak untuk kalangan tersebut. Teguran ini datang langsung dari salah satu dari mereka.

Sebenernya ibu-ibu yang ngurusin konsumsi mungkin ngerasa biasa aja dengan teguran tersebut. Karena selain udah biasa mungkin beliau juga tahu emang itu pekerjaannya. Tapi yang kadang bikin sedih lebih ke siapa penegurnya, iya sesuai judul post ini, kalangan yang aku maksud adalah para kaum cendekiawan, para dosen.

Kadang mungkin aku nya yang telalu naif atau bagaimana, karna kukira jadi dosen atau guru itu penuh pengabdian, yang tidak terlalu mempermasalahkan materi yang diperoleh, apalagi sekedar masalah makanan.

Bogor [1]: Institut Pertanian Bogor

ini Institut Pertanian Bogor? Aku kira Kebun Raya Bogor, kata seseorang
Alhamdulillah dapat kesempatan lagi mampir ke kampus lain di Indonesia, Institut Pertanian Bogor :) Kalau denger pertama tentang IPB yang aku inget adalah 2, pertama adalah video tentang Jejak-Jejak Mimpi (pake vimeo, kalau di Yutube diblokir soundnya), dan yang kedua adalah tim AgriCoder (tim Competitive Programming IPB yang sering banget ketemu di tempat lomba, dan terus tinggi-tinggian peringkat)

Setelah sampai sana, komentarnya jadi nambah "sejuk","rindang", dan "agro" banget. Suasana budaya agro di sana tidak hanya kerasa di IPB tapi banyak tempat di Bogor. Dan agak cocok dengan cerita bagaimana kita dari kontingen PIMNAS UGM mempersiapkan banyak hal di sana, insyaAllah ada banyak cerita dari sana. Sekarang rehat dulu :)

Experience is the best teacher

Salah satu kata-kata mutiara di buku tulis yang masih keinget sampai sekarang.

Beberapa tahun lalu di sebuah acara di SMA, dengan pemateri saat itu Mas Dalu Kirom, sebuah pertanyaan terlontar, "Mas, bagaimanakah cara kita menjadi seorang yang memiliki jiwa pemimpin?"

"Turun ke lapangan, nggak ada pemimpin yang bisa terlahir hanya semalam, nggak ada teori yang bisa njadiin kita pemimpin dalam sekejap, semua itu dari pengalaman"

Beberapa hari lalu di sebuah acara di kampus, dengan pemateri saat itu Bu Wiwit Wijayanti, sebuah pertanyaan terlontar, "Bu, bagaimana cara biar kita menjadi public speaker yang baik, yang ndak punya kebiasaan bilang eeh... eeh... atau sejenisnya?"

"Jam terbang dan latihan, itu kembali ke jam terbang. Semakin sering kita bicara di depan umum, nanti pelan-pelan kita bisa semakin memperbaiki dan menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk kita"

Jadi sebenernya sulit juga kalau ditanya, Kapan kamu bisa mulai memimpin? atau kapan kamu bisa menjadi public speaker yang baik? itu semua tergantung pengalaman, dan kita harus tetap belajar untuk memperbaiki diri

Karena memang nyatanya ada beberapa kemampuan yang perlu terus diasah seumur hidup untuk memperoleh hasil yang terus membaik

*semua kutipan hanya sebatas ingatan, kurang lebih seperti itu kata-katanya

Kereta Ekonomi

Kalau ditanya berapa kali naik kereta ekonomi?
Empat kali

Naik kereta ekonomi pertama kali pas dapet tawaran ngajar di Purwokerto dan posisiku lagi liburan di Surabaya. Naik kereta lama buanget, terus dapet posisi bangku yang ngadep belakang jadinya jalan mundur dan akhirnya agak pusing. Diapit sama penumpang sekeluarga yang seru ngobrol dan akunya jadi krik-krik sendiri karna selain gak diajakin ngobrol, akunya juga bingung mau nanya-nanya apa. bener-bener kesan pertama yang buruk rasanya tentang kereta ekonomi.

Naik kereta ekonomi kedua dari Purwokerto ke Surabaya, tapi bukan di saat yang sama dengan yang pertama, ini ceritanya nganterin mas Basith dan mas Shofwan main ke Surabaya. Walau ceritanya nganterin tapi posisi dudukku jauh dari mereka. Kali ini duduk dibangku yang diisi sama orang-orang lebih diem dari pertama, jadi gak terlalu kerasa aneh, tapi kali ini yang kerasa adalah kaki yang gak bisa lurus -- dan jadinya capek buanget, rasanya kalau pas mbak-mbak yang di depanku lagi ke WC itu kayak "waaah, alhamdulillah akhirnya bisa ngelurusin kaki juga"

Naik kereta ekonomi yang ketiga dari Jogja ke Kediri, dapat tawaran ngajar terus naik kereta tengah malem. Yang ini lebih tenang, karena malem jadinya gerbongnya banyak sepinya, gak ada temen sebangku atau temen sehadepan bangku, bener-bener lebih kerasa nyamannya bisa sambil baca buku dan tidur-tiduran, walau sempet takut juga ntar kebablasan stasiunnya. Sayangnya pengalaman buruk dateng setelah sampai di Stasiun Kediri. Karena jadwalnya ndak ada yang pas, akhirnya sampai di Kediri sekitar jam 1 malem, dan terlantar karna dari pihak sekolah ndak ada yang bisa jemput sampai sekitar jam setengah 3 malem .___. tiduran, di lantai, teras luar stasiun, tengah malem.

Yang terakhir barusan aja dari pagi-sore tadi. Dan seperti kemarau setahun diguyur hujan semalam, udah susah nginget cerita-cerita buruk kereta ekonomi. Terus jadi inget kata-kata yang aku lupa dapet dari mana, "Ketika seseorang memberi nasihat, sebenarnya mereka sedang bercerita tentang pengalaman mereka" Ya.. walau agak beda maknanya, tapi rasanya sama, karna sampai tadi pagi, rasanya kalau denger dan ditanya tentang kereta ekonomi masih negatif aja kesannya, sampai dapat pengalaman baru seharian ini :)

Bismillah...

Memang, Tak Sekadar Percakapan

Dan diakhir malam ini, juga dapat renungan dari seseorang. Agak beda, tapi masih setopik...
Sebelumnya, sebagai pembicara kita memang harus untuk hati-hati menata niat kita untuk berbicara. Namun.. bagaimana sikap kita jika sebagai pendengar?

Ya kita juga harus lebih terbuka terhadap segala niat si pembicara, bukan tentang niat buruknya, toh jangan juga menduga niatan buruk seseorang, tapi sebenernya lebih ke niat "yang lain" nya.

Bagaimana kalau seandainya si pengajak bicara ini, tidak mempermasalah kan konten pembicaraan? tapi di dalam hatinya dia cuma ingin berjumpa dengan si pendengar, cuma ingin mengobrol dengan si pendengar, cuma ingin menjalin silatuhrahmi, ingin melepas kepenatannya, dari tekanan yang dia alami, dan hal-hal lain. Masihkah kita enggan untuk mendengarkan?

Kenyataannya, Tak Sekadar Percakapan

Tadi siang baru pertama kali denger Pak Sri Mulyana ngisi khotbah Jum'at, dan ada sepatah kata dari beliau yg cukup bisa jadi renungan bersama
"Aku belum sempet puasa syawal nih", "hoo, kalau aku udah di awal bulan kemarin",... Nah, apa maksudnya bilang "aku udah di awal bulan kemarin"? Kenapa dia bilang gitu? Hati-hati dengan niatnya!
Bener memang, kadang itu yang mesti buat renungan, aku, kamu, siapapun, apa maksud dari setiap ucapan kita, tulisan kita, apapun. Apakah sudah bener niatnya?
wallahua'lam, menjaga niat termasuk berat, semoga Allah menguatkan kita, dan kita juga mesti terus memperbaikinya

Pokemon Go

Namanya Empoleon, pokemon favorit dari dulu karna ada kesan "Raja"-nya :v

Pas lagi random sepedaan di jalan utaranya vokasi,
ngelihat anak kecil palingan masih kelas 1-2 SD lagi main Pokemon Go,
di atas motor yang sambil jalan,
bukan nyetir sendirilah -- tapi dibonceng,
sama... Ayahnya... :"
Iya juga, game kayak gini gak cuma deketin antara temen yang suka main game, tapi juga bisa deketin orang tua dan anaknya. Gamenya udah kasih kesempatan besar untuk interaksi antar orang, sekarang tinggal gimana orang tuanya mau tidak mengambil kesempatan dan memberanikan diri untuk berinteraksi dengan anaknya... Ini bisa jadi awal, selain bisa mengawasi pemakaian gadget anaknya, bisa juga jadi sahabat bermain anaknya,"

Pikirku, sambil terus ngontel sepeda dan juga mbayangin seandainya HP ku bisa diinstal Pokemon Go :(

Ud'unii Astajib lakum

diambil dari Muslim Designer Community

Akhir-akhir ini ngerasa ajaib aja, takjub dengan gimana cara Allah membalas sebuah doa. Begitu ndak disangka-sangka, dan seakan mengecilkan kita begitu lemahnya kita dalam berencana dibandingkan dengan ketika Allah telah berencana.

Jadi di hari jumat yang mulia ini saya mau berpesan,

Berdoalah, InsyaAllah akan terkabul, bahkan ketika kita merasa sudah tidak ada jalan lain.
Berdoalah, InsyaAllah akan diperoleh yang terbaik, bahkan ketika kita mengira apa yang kita pilih sudah yang terbaik.

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku[1326] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." (Ghafir : 60)

"Di hari Jum’at terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim yang ia berdiri melaksanakan shalat lantas ia memanjatkan suatu do’a pada Allah bertepatan dengan waktu tersebut melainkan Allah akan memberi apa yang ia minta." (HR. Bukhari)

Baca juga : Keutamaan berdoa di hari Jumat

Ramadhan 1437H: Teman

harusnya empat orang :(

Emang gak seru kalau libur lebaran tapi gak ketemu temen. Dan agak spesial, liburan kali ini ketemu temen yang bisa dibilang udah lama banget gak ketemu, namanya Ega dan Atul. Terakhir ketemu? kayaknya sudah 3-4 tahun lalu di buber SMA.

Qadarullah, posisi duduk di bangku SMA bikin kita saling kenal. Ega dan Atul kadang duduk di depan atau belakang bangkuku dan Arief. Dan sejak itu kita udah saling mempengaruhi satu sama lain. Mengenali cara berpikir masing-masing. Belajar bersikap dewasa ketika ada terjadi konflik.

Arief sudah sibuk go International dan meniti karirnya di ITB, sayang gak bisa hadir karena terbentur jadwalnya. Atul selain sibuk menyelesaikan skripsinya, dia juga sudah melalang buana ke dunia luar memberi manfaat dengan penelitian dan pengabdian. Ega sudah memulai koas sebagai dokter di RS Dr. Soetomo, agak unik ngelihat dia jadi dokter apalagi kalau inget dulu pas SMA dia ketua ekskul basket.

Semoga kita bisa ketemu lagi lain waktu
*dan mungkin lain waktu ketemunya ndak di rumah makan rumah sakit juga ya :))


Ramadhan 1437H: Mudik

"Eh lihat itu, stiker dibelakang mobilnya, ada logo Apple-nya, berarti yang punya mobil itu punya Apple, keren ya"

"Yang itu lihat tuh, ada stiker dari Waterboom, kapan nih mau main renang?"

"Terus yang itu ada stiker dari WBL (Wisata Bahari Lamongan), padahal perasaan dulu WBL gak menarik sih, panas gitu, apa sekarang udah lebih bagus ya? penasaran.."

Siapa sangka salah satu hikmah dibalik macet adalah promosi gratis beberapa tempat wisata dalam bentuk stiker di belakang kaca mobil. Dan siapa sangka hal sepele gitu bisa bikin yang melamun di belakangnya, nungguin mobil bergerak di depannya, jadi bercita-cita untuk tidak kalah dari si-pemilik stiker. Pergi jauh buat bermain, menabung lebih serius, untuk beli stiker, untuk menceritakan ke orang lain.

Ramadhan 1437H: Pak Dedik

#Postingan ini sebagian ditulis di 10 malam terakhir ramadhan kemarin. #Dibuang sayang.

Dua hari ini karena tuntutan kerja yang membutuhkan internet tanpa kuota, akhirnya bikin milih untuk kabur dari rumah ke Wifi Corner di kantor Telkom deket UNESA.

Ada yang menarik di tempat ini, yaitu Masjid Telkom-nya (gak merhatiin nama masjidnya), Jadi setiap habis dzuhur berjamaah nanti ada khatib buat ceramah (bukan kultum, karna ceramahnya bisa sampe setengah jam lebih .-.), terus nanti habis ashar ada ngaji bareng gitu, imamnya baca Al-Quran pake mic terus ada petugas masjid yang membagikan Al-Quran masjid ke jama'ahnya untuk menyimak dan membaca bareng.

Suatu hari setelah Ashar, sambil ngikutin bacaan imam di masjid, karena hari itu kebetulan bawa Al-Quran sendiri jadinya nyimaknya pakai Al-Quran sendiri.

"Mas itu Al-Quran kecil gitu apa ndak susah bacanya ya mas?" awal pembicaraan dari Pak Dedik.
 "Ya, lumayan agak capek sih pak bacanya, tapi kan lebih enteng bawanya." Terus pembicaraan mulai panjang lebar.

Rupanya Pak Dedik adalah seorang bapak kos di daerah UNESA situ, juga pemilik rental komputer dan jasa pengetikan, print, dan sejenisnya. Penampilannya sederhana banget, pakai "polo" coklat sederhana tanpa aksesoris, keliatan agak timpang sama megahnya Masjid Telkom.

Banyak banget obrolan santai dengan beliau, mulai dari jaringan komputer, tips buat ngatasi virus, saran untuk memilih kuliah buat saudaranya, memilih jodoh yang baik, dan beragam pengalaman pribadinya. Logatnya surabaya banget, jiwanya juga, menggebu-gebu dan terkesan berani dan tegas. Kalau dipikir, kok rasanya jarang juga ngobrol sama orang yang berjiwa Surabaya banget gini.

Yo percuma kan kalau di dunia sukses, tapi di akhirat sengsara, mesti seimbang dunia akhirat iku, ojo cuman mikir dunia tok", salah satu kalimat pembuka dari Pak Dedik.
Kalimat itu beliau ucapin di awal percakapan. Dan rasanya kalimat itu tetep mengena menarik walau obrolan jadi panjang ngalor ngidul. Apalagi nginget kondisi yang pas lagi sibuk-sibuknya nggarap pekerjaan padahal udah 10 malam terakhir Ramadhan.

Rasanya agak gak nyangka kalimat itu bisa terlontar oleh seorang yang terlihat "biasa" saja. Seorang pemilik rental komputer yang memiliki mindset seperti itu rasanya.., menarik. Obrolan pun sempat panjang membahas hal tersebut. Dan in yang bikin betah ngobrol panjang dengan beliaunya.

Semoga kita dipertemukan lagi ya Pak, di Ramadhan tahun depan, dan tahun tahun selanjutnya.

"Bisa minta nomornya? sepertinya kita ditakdirkan untuk bertemu di sini", kata beliau menutup obrolan sore itu.

Ramadhan 1437H : Lingkungan

Karena kenyataannya kamu terbentuk lebih dari sekadar genetik orang tua,
tapi juga semua nenek buyutmu, dan juga semua lingkungan yang telah kamu pilih
Ceritanya beberapa hari lalu sempet buka bersama temen SD sekalian reunian.Ketemu temen yang udah lama banget nggak ketemu. Sempet lucu ketemu Bachtiar, temen deket semasa SD, yang sekarang walau aku udah jenggotan dan dia udah kumisan tapi pas ketemu udah berasa lupa umur bercandanya.

Yang menarik dari pertemuan ini, kepolosan jaman-jaman SD itu udah nggak keliatan lagi. Udah ada yang jadi Presbem fakultasnya, udah ada yang sempet intern ke Jepang, ada yang lagi sekolah di Korea juga, ada yang mulai jalanin bisnisnya buka les-lesan, kerja di konsultasi pajak, promosiin produk kecantikan, sibuk cari beasiswa S2, skripsian, macem-macem lah.

Dan rasanya gak nyangka aja kalau inget-inget gimana bentuk kita pas masih SD dan gimana bentuk kita sekarang. Jadi keinget sama kata-katanya Austin Kleon di buku Steal Like an Artist, Karena kenyataannya kamu terbentuk lebih dari sekadar genetik orang tua, tapi juga semua nenek buyutmu, dan juga semua lingkungan yang telah kamu pilih.

"Avis yang dulu bukanlah Avis yang sekarang ... ", ucap Avis, temen SDku yang dulu pendiem banget dan sekarang udah bisa rame, jelas kata-katanya dilanjut gelak tawa semeja makan.

“Seseorang itu berada pada agama teman karibnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapakah yang dia jadikan teman karibnya.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ahmad)


Ramadhan 1437H : Al-Ashr

Yang ada saat ini, orang tua lebih serius ngingetin anaknya berangkat sekolah dari pada sholat. Kalau ngingetin sekolah aja bisa berkali-kali sampe anaknya bangun terus berangkat, kalau ngingetin sholat cuma sekali habis itu dalam hati udah bilang, seenggaknya udah ngingetin, itu salah"
Temanya mengupas singkat surat Al-Ashr. Yang ngisi kajian terawihnya masih mas-mas, lamaaa banget gak kayak biasanya, semua jama'ah ketunduk kepalanya. Tapi pas kalimat itu disebutin, entah aku ngerasa semua jadi noleh ke arah mimbar. Soalnya dalam hati aku juga teriak, "Weh, iya juga :|"

Masya Allah, masih banyak hal sederhana dan praktis yang kita gak sadar seharusnya kita lakuin.

Sudut pandang lain tentang Startup

Kita umat Islam memang sekarang tertinggal dengan orang-orang barat sana, tapi apa dengan mempelajari teknologi kita bisa mengalahkan mereka? belum tentu, yang penting sebenarnya adalah dengan meningkatkan Iman kita. Perang Badar, bagaimana umat Islam yang hanya 314 oang memenangkan peperangan melawan kaum Quraisy yang berjumlah 1300 orang? apakah senjatanya? bukan, tapi karena Iman mereka yang sangat kuat saat itu. Begitu juga pada perang Yarmuk, kaum muslimin saat itu cuma berjumlah 10 ribuan orang melawan pasukan Romawi sebanyak ratusan ribu orang, dan kaum muslimin berhasil memenangkan karena Iman mereka juga yang kuat. Belajar teknologi juga perlu, tapi yang lebih perlu lagi itu meningkatkan Iman kita"

Kira-kira seperti itulah nasihat singkat namun luar biasa dari Pak Sri Darma Krida, Ketua Komunitas Ilmuwan dan Profesional Muslim Indonesia (KIPMI) sesaat sebelum presentasi tim BeHafidz di hadapan beliau.

Selain itu, Beliau juga cerita tentang bagaimana startup kebanyakan yang ada saat ini berorientasi dengan uang dan dunia. Yang berakibat jadi ambisi yang buruk dan bisa sampai menghalalkan cara-cara yang kotor. Ada startup yang rela menerima dana dari bank, yang jelas itu dana kotor, dan malah ada startup yang jelas-jelas memainkan uang dengan cara yang riba dengan alasan bisnis. Naudzu billahi min dzalik.

Dan setelah diskusi dengan Widardi menjelang berbuka tadi jadi kepikiran, Iya juga, kalau kita orientasinya nyari uang, ya kita akan terus merasa kurang, tapi kalau orientasi kita memenuhi kebutuhan bisa jadi lebih cukup. Rizki dikit yang penting barakah itu lebih baik dari pada rizki banyak tapi ndak barakah.

Sudut pandang lain yang menarik banget tentang bisnis Startup yang lagi ngehits saat ini.

Bukamata dari Bukalapak

Kemarin malam minggu saya diajak makan malam oleh mbak-mbak gak kayak malam minggu biasanya yang diajakin bapak-bapak (Pak Anif, dkk.). Bukan makan malam biasa sih tapi juga bukan makan malam romantis :v cuma itu undangan makan malam karena sorenya alhamdulillah aku dan empat temenku berhasil juara Bukalapak Progamming Contest (BLPC) regional Jogja-Jateng. Iya bisa ditebak, mbak-mbak itu panitia dari Bukalapak :v

Makan malemnya selain kita berlima yang juara lomba juga semeja bareng empat anggota dari Bukalapak. Setelah kepo aku tahu ada Mas Nuc, CTO Bukalapak, Mas Gema, Head of Human Capitalnya, terus ada Mas Hadi Saloko, programmer dan kayaknya tim repotnya BLPC juga dan Mbak Nida tim recruitment yang juga seksi repotnya BLPC.

Dan sambil ditengah-tengah ngobrol, ada obrolan menarik yang aku kutip dan sebnernya inti dari post ini, adalah sepatah kata dari Mas Nuc, kira-kira gini.

Kalau jadi dosen di Indonesia khususnya di bidang IT aku lihat risetnya masih bisa kalah sama programmer-programmer industri. Kenapa? karena kalau jadi dosen di Indonesia itu banyak hal-hal yang bisa menghalangi kamu nantinya untuk riset. Belum lagi nanti karena gajinya kecil akhirnya jadi proyekan ujung-ujungnya. Sedangkan kalau di industri karena kita bersaing, kalau kita tidak pakai teknologi terbaru kita akan kalah. Jadinya malah harus terus belajar.

Beda lagi kalau dosen di luar negeri. Kalau di luar negeri jadi dosen itu risetnya jalan, selain itu dosen-dosen sana cukup update dengan teknologi terbaru. Saya inget pernah ketemu dosen tua di luar negeri masih tahu fitur terbarunya Android Studio"

Hm... Gimana?
Mungkin ada yang kepikiran, ah itu kan bahan promosi atau recruiting jadi jangan dipercaya,
tapi kalau aku pribadi sih, ngerasa itu bener loh dari yang aku lihat selama kuliah ini. Tapi setelah ndenger itu bukannya malah pingin tertarik jadi programmer Bukalapak malah tambah pingin jadi dosen :v Malah kepikiran, ada sistem yang perlu diperbaiki bukan?

Semoga Allah ta'ala menguatkan dan memberi pilihan terbaik.

Tipe Cewekmu Seperti Apa Yan?

Sontak pertanyaan itu membuat kedua mata ini terbelalak, tidak hanya diriku yang menjadi objek tanya, tapi juga mbak shifa yang diam di ruangan itu ikut terkejut oleh pertanyaannya.
*sok bahasa cerpen

Jadi sore-sore di Ditmawa, aku, mbak Shifa, dan mbak Lita, diem-dieman di ruang pak Aas. Sepi kayak gak ada orang. Aku lagi baca-baca artikel, mbak Shifa ngurusin surat, mbak Lita juga kayaknya. Dan entah bisikan dari mana tiba-tiba mbak Lita nanyain pertanyaan itu, "Tipe cewemu itu kayak gimana eh yan?"

Sebenernya aku ngerti mbak Lita ini tukang ngobrol gitu, mungkin pertanyaan itu udah tak anggep biasa antar cewek-cewek sana. Tapi bagian "gimana eh Yan", iya "Yan" nya itu loh yang bikin shock -- "kok aku jadi ikut-ikutan sih, njuk aku kudu njawab piyee...", dalam hati.

Setelah meliuk-liuk menghindari njawab pertanyaan itu, mbak nya nyeletuk lagi,
"Lah, masa kamu gak ada harapan yang jelas gitu yaan, yang sholehah kah, yang cantik kah, yang gimana gitu... kan ibaratnya milih laptop ya, kan kamu juga mesti punya spesifikasinya kan, masa kamu milih laptop pasrah aja"

Hmm... dan berkat analogi laptop dari mbak Lita, jadi bisa njawab,
"Ya kalau aku beli laptop sih mesti punya keinginan spesifikasinya mbak, tapi sebelumnya kan yang penting itu apa tujuan kita beli laptop, kan itu yang nentuin spesifikasi yang mau kita cari, nah sekarang apa coba tujuan kita nyari cewek itu, nikah? pinginnya pernikahan itu kayak gimana? tujuannya apa? nah itu yang harusnya bakal nentuin kita milih cewek yang kayak gimana buat nantinya"

Mbak Lita masih nanggapi, obrolan masih berlanjut, topiknya juga belum berganti. Tapi setelahnya aku jadi lebih merenungi jawabanku sendiri...

Khianat

Jadi baru-baru ini nemu film bagus untuk jadi bahan hiburan. Judulnya Arrow, film serial superhero dari komik DC. Filmnya bagus, ceritanya keren gitu, dan gak saru. (Barusan nonton 13 episode dan kalaupun ada adegan ciuman biasanya langsung bisa diskip karena mesti diawali dengan awalan yang "jelas" dan bukan adegan penting dari alur ceritanya)

Dan di episode akhir-akhir ini dapet sebuah hikmah yang menarik untuk jadi bahan renungan.
(bukan spoiler)
Apa yang akan kamu lakukan jika kamu tahu orang yang kamu percayai dengan sepenuh hati ternyata berkhianat? Ketika orang yang kamu rela berkorban untuknya ternyata adalah pembohong?

Apa yang akan kamu lakukan? marah? minta kejelasan? terus gimana kalau  misal kamu tahu pengkhianatannya secara diam-diam? misalnya kalau zaman sekarang karena gak sengaja mbaca smsnya, mbaca chatnya, atau karena gak sengaja aja ngelihat atau nguping pembicaraannya? apa yang akan kamu lakukan? Masihkah kita akan berprasangka baik?

jelas bakal "mbuencekno" di awal, tapi selain itu,
mungkin ada baiknya kita juga bercermin,

sudah seberapa baik kamu menjaga kepercayaan yang orang lain berikan kepadamu?

"Tanda orang munafik itu tiga apabila ia berucap berdusta, jika membuat janji mengingkari, dan jika dipercayai mengkhianati” (HR Al-Bukhari)

Semoga Allah menjaga kita dari menyakiti dan tersakiti oleh pedihnya pengkhianatan.

Sejenak Sebelum Makan

Ceritanya pagi ini sedang nemenin makan pagi pembinaan olimpiade bareng siswa dari SMA Negeri 3 Batam. Model pembinaan kami emang cukup beda, karena pembina, panitia, dan peserta akan duduk bersama dalam satu meja ketika makan. Jadi bisa bercanda dan mengenal satu sama lain.

Namanya Yossie, siswi yang ikut pembinaan bidang geografi ini berhasil ciptain renungan sendiri. Aku perhatiin dia setiap mau makan nundukin kepala dan khusyuk berdoa, dia non-muslim. Aku gak tahu apa yang diucapin karena bibirnya tertutup rapat, tapi aku yakin dia berdoa, karena melihat matanya yang terpejam dan tangannya yang menggenggam khusyuk sebagaimana cara berdoanya orang nasrani.

Tidak perlu waktu lama dia berdoa, kira-kira 8-10 detik saja. tapi waktu sesingkat itu udah jadi pukulan buat kita yang langsung menyuapkan makanannya.

Dalam Islam, doa sebelum makan yang dianjurkan adalah dengan menyebut asma Allah, "Bismillah," bahkan tanpa perlu embel-embel "Arrohmaanirrahiim." Sedangkan doa "Allahumma bariklana ...," hadits yang menganjurkan doa tersebut sanadnya adalah dhoif alias lemah alias tidak bisa diamalkan.

Seberapa lama waktu kita yang muslim untuk mengucapkan doa tersebut? mengucapkan "Bismillah"? tidak sampai 2 detik? tidak sampai 1 detik? lalu seberapa sering kita makan bersama setan hanya karena lupa mengucapkan doa tersebut.

Semoga bisa jadi renungan bersama, banyak amalan kecil yang mudah kita lakukan, tapi kita pun biasa untuk melupakan.

"Bismillahi fii awwalihi wa aakhirihi" (doa ketika lupa mengucap bismillah di awal makan)


*referensi penjelasan tentang doa sebelum makan:
https://rumaysho.com/1114-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html

2 Mei Tahun Ini

Udah gak denger lagi pidato dari kemendikti pas upacara,

yang rame ya #SaveAleppo, ketika rumah sakit di hujani bom, jalanan dibanjiri darah anak-ibu-bapak, entah apa dosa mereka, sedangkan dunia diam dalam berita,

yang rame lagi #NyalaUntukYuyun, gadis remaja yang menghadapi kebejatan 14 pemuda peminum alkohol, tuh kan Pak Gubernur, alkohol mah gak ada baiknya,

lalu juga ada kisah #Feby, yang harus menemui ajalnya karena himpitan ekonomi seorang cleaning service, bukan di hutan, di kampus, di mana ada banyak petugas keamanan, miris

sebelumnya paginya ada #bUKTicinta #UGMbersatu, ledakan masalah yang seakan menunjukkan sisi buruk dunia pendidikan sekarang, penuh cerita, penuh suara,

Udahlah, emang gak ada yang perlu dirayakan, toh, cuma ada 2 hari raya,
yang ini, cukup didoakan....

Hei Aku Butuh Saran

Jadi insyaAllah aku berniat ambil S2, setelah hampir 4 tahun menggeluti bidang komputer di Ilmu Komputer UGM. Terus malem ini kepikiran dengan dua pilihan yang bikin galau, galau bangetzz malah (pake 'z' dua kali). Jadi butuh kalian untuk minta saran (aku harap kalian tentukan pilihan jawaban kalian sebelum baca penjelasanku di bawahnya):


1. Kuliah S2 di Universitas ****  swasta gak terkenal yang juga mahal tapi di bidang komputer
2. Kuliah S2 di Harvard dengan beasiswa full tapi di bidang akutansi


***

Bingung? sama.

Sebenernya itu adalah analogi dari pernyataan yang lagi rame akhir-akhir ini:
"Mending Milih Pemimpin Non-Muslim Tapi Adil dari pada Pemimpin Muslim Tapi Koruptor"


Mohon maaf, tapi aku langsung meragukan pemikiran seseorang yang dengan mudah menyatakan pernyataan tersebut terkhusus untuk kasus terhangat pemilihan gubernur yang mayoritas warganya muslim. Emang semua muslim (termasuk dirimu) di situ koruptor semua? Emangnya tahu dari mana non-muslim yang dicalonkan itu akan adil kedepannya?

Sebenernya yang aku bicarain terlepas dari muslim dan non-muslimnya sih, terlepas dari apa jawaban "Mana yang terbaik memilih pemimpin muslim tapi koruptor atau non-muslim tapi adil", tapi aku rasa orang yang punya pertanyaan (sejenis) ini berpikiran sempit bangetzz (pake 'z' dua kali juga) apalagi di kondisi negara sekarang ini.


1. Kuliah di Universitas ****  swasta gak terkenal yang juga mahal tapi di bidang komputer
2. Kuliah di Harvard dengan beasiswa full tapi di bidang akutansi

Kalau ndak percaya, coba bantu jawab pertanyaan itu, bayanganku kalau orang aku tanyain kegalauanku itu, jawabannya pasti "Emang ndak ada opsi lain?"

ya, tentu saja, masih banyak opsi lain :)

Gak ngerti lagi deh, semoga keluarga, kerabat, dan semua umat muslim bisa terjaga dari pembawa keraguan dan kebingungan ini.

#analogi

Mengenal Orang Jakarta: Mungkinkah?

Halaman 85 dari buku "Tiada Ojek di Paris" karya Seno Gumira Ajidarma. Buku yang menarik, sampai-sampai gak mau aku cepet habisin bacanya.

"Saya kira saya sudah lebih dari lima belas tahun saya selalu melihat kura-kura (peliharaan) itu berenang, makan, merayap ke sana kemari. Namun baru belakangan saya sadari, betapa saya tidak tahu sesuatu pun tentang kura-kura itu: mestinya makan apa, bagaimana sifat-sifatnya, berapa lama ia hidup, dan macam-macam hal yang ringan-ringan saja-boro-boro nama dalam bahasa Latin-nya, Sudah lima belas tahun makhluk itu ada di depan saya tetapi bahkan jenis apa kura-kura itu saja, saya tidak pernah berusaha mengenalnya. Mana yang jantan dan mana yang betina saja saya tidak tahu. Tidakkah ini keterlaluan? Tapi, kita semua sering melakukan hal yang sama."

Iya juga, dari pada kita mengenal seseorang dari fakta, kebanyakan dari kita cuma mengenal dari "dzon" alias dugaan saja. Dugaan yang bisa terbangun dari pengalaman, kesirikan orang, pujian, cibiran yang kita dengar, atau hanya dari pandangan mata yang lemah.

Do You Remember?

ceritanya nemu ini di 9gag, terus kebayang, langsung tutup 9gag, IYKWIM

Yogyakarta

Walau kini kau t'lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Ijinkanlah aku untuk s'lalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati


Kalau bisa dibilang, Jogja adalah kota kedua yang paling berkesan. Entah apa yang direncanakan Allah, tapi beberapa kali aku ngerasa ditakdirin untuk dekat dengan kota ini.

Dulu pas masih kecil ke Jogja ini inget karena punya Bude yang baik banget dan tinggal di sini, punya rumah bagus, yang ada banyak barang yang bisa "dimainin". Juga beberapa kali inget pernah ke sini ikut nonton pernikahan anak-anaknya Bude yang cewek semua dan dokter semua... Sekarang De-Dah (panggilanku untuk Bude Wardah) sudah semakin berusia, anak-anaknya juga sudah punya anak bahkan udah ada yang mau SMA, De-Dah sudah jarang di Jogja, seringnya muter-muter ke rumah anak-anaknya yang tinggal jauh-jauh, waktu berlalu cepet banget ya rasanya De?

Pas SMP pernah diajakin lomba sama Pak Yani, Bareng Hoki dan Ratna kita ikut lomba cerdas cermat yang seleksinya di Surabaya. Kerja bareng Ratna dan Hoki bisa jadi pelajaran banget, ketemu sama orang yang jago ngomong (bahasa inggris juga) kayak Ratna dan jago menghafal kayak Hoki rasanya keren banget. Dan Alhamdulillah, lomba ini nganterin aku ke Jogja. Naik pesawat pertama kali, masuk TV Nasional pertama kali, ketemu Artis pertama kali, dapet HP pertama, juga ketemu dengan orang-orang pinter di seluruh Indonesia (aku masih inget beberapa namanya loh :) ada Ryan, Komang, Petra, Nanda, err.. yang dulu saling kenal sih cuma Ryan dan Nanda dari Malang :v yang lain keinget karena namanya unik, apa kabar?). Rasanya beruntung banget, karna waktu itu aku sekolah di SMP yang bahkan bukan terbaik di Surabaya.

lombanya di depan Prambanan, panas banget, tapi kita dapet susu gratis dan bisa ambil sendiri :)

Ke Jogja untuk lomba lagi ketika udah bisa ngoding, lolos final PCS Joints UGM. Setim sama Punjung dan Anton, bareng mas Rizky berpetualang ke Jogja. Dateng-dateng di Jogja, karena hotelnya belum bisa masukin akhirnya jalan manjat ke Kaliurang sambil bawa tas isi laptop dan baju untuk 2 hari .__. (dulu ini ide siapa sih --") jalan-jalan ke Malioboro, terus beli gantungan kunci berbentuk kalung batik, yang... ya kalung batik ini bener-bener kenangan banget, bukan cuma tentang lomba sih, tapi jauh lebih dalem haha, udah aku jaga setengah mati kalung batik ini sampe akhirnya hilang bersama flashdiskku semester kemarin karena otak mulai melemah untuk nginget naruh barang T.T

lihat tas yang di depan itu? kayaknya sebagian lagi masih ada di balik kamera ._.
Ibukku pingin banget nyuruh aku jadi Dokter, pas Kelas 3 SMA bener-bener di paksa untuk daftar FK Unair. Tapi rasanya gak sreg (aku gak "tegaan" lihat orang berdarah-darah) dan tetep ambil komputer. Sempet kepikiran ambil STEI ITB atau Fasilkom UI, sampe akhirnya mulai nyadar tentang hitung-hitungan biaya hidup, ya sudahlah insyaAllah mantep kuliah di Jogja. Kuliah di kota yang penuh kenangan yang jadiin aku pakai handlename "malioboro" di lomba-lomba CP.

yang tak inget cuma deska dan hafidz, ._. bahkan ketua kelompoknya aku lupa namanya
Malem ini sambil nggarap paper tiba-tiba denger lagu dari Kla Project, Yogyakarta. Sebenernya ayahku udah sering nyetelin lagu ini dulu, jauh sebelum momen itu. Tapi setelahnya, lagu ini kalau denger selalu bikin visualisasi masa-masa paling indah di Jogja di mana aku denger lagu ini juga, kalau dideskripsiin apa yang aku bayangin:

Di bawah langit malam berbintang, di rumah makan dengan suasana hangat, hembusan angin bukit, kelap kelip lampu Jogja, bersama mereka... ngobrol tertawa...

romantis kan? :"


Jadi kebayang, mungkin setelah ini lagu ini juga gak bakal cuma ngevisualisasiin kenangan itu, akan lebih kompleks, lebih lengkap, lebih panjang, lebih banyak, lebih ramai, lebih berwarna...

Kerja, kerja, kerja

Bermula dapet tawaran magang di Subdit Kreativitas Mahasiswa UGM dari Mas Bondan pas lagi sibuk ngurus Gemastik di akhir semester 6 lalu. Karena dulu mikirnya semester 7 bakal selo ya sudah nyoba daftar dengan bikin CV sederhana, majuin diri sebagai "Graphic Designer" karena pas itu mereka juga lagi nyari tukang gambar.

Diterima, dikenalin sama orang-orang dikantornya, ketemu sama Tohir, anak sastra Arab yang juga parttimer dan ternyata juga ikut lomba MTQ. Ada Pak Aas (big bos), Pak Yus (2nd big bos :)), Bu Peni, dan Pak Har yang jadi tim awal di subdit ini (Pas aku nulis ini tim kita udah nambah Bu Tari dan Mbak Shifa). Kantor ini kebetulan punya visi yang gak beda jauh sama OmahTI, mengayomi para calon juara UGM dari persiapan lomba, akomodasi, sampai insentif juara.

Yang aku kerjain di sini?
Pertanyaan itu sering banget ditanyain sama temen, jadi aku jawab di sini aja, banyak. Sebagai desainer grafis, aku ngurusin hampir setiap publikasi oleh subdit ini, bahkan juga tim PKM center sering minta bantu desainin co-card atau xbanner atau poster atau buku. Pihak Direktorat juga sempat minta tolong ndesain beberapa poster (salah satunya "Hak dan Kewajiban Mahasiswa" yang sering aku lihat ditempel di setiap fakultas :3). Aku juga jadi koordinator desain buletin yang terbit (selalu terlambat) tiap bulannya, koordinator karna beberapa buletin aku kerjain bareng sama Ali Imran. Tahun lalu kerja bareng Gama Press untuk bikin buku "Kreasi dan Inovasi Mahasiswa UGM 2015" buku kumpulan prestasi mahasiswa UGM. Ya, yang menarik akhirnya jadi lumayan ngerti Gamapress dan bagaimana rule-rule yang ada dalam dunia percetakan.

Selain itu aku juga dapet kerjaan lain karna ketahuan dari Ilmu Komputer, yak, ngurusin websitenya. Untungnya karena pakai wordpress jadinya per-maintenance-an nggak terlalu sulit. Setting Plug-in, layout, desain web, sampai penambahan fitur dan fungsi sesuai rekues atasan. Juga ngasih konten seperti liputan-liputan yang dibuat Tohir, halaman-halaman, dan sistem pendaftaran Jawara UGM.

Dan pekerjaan administrasi lainnya,.. salah satu yang aku pegang adalah mengentry, membuat list, merapikan data prestasi mahasiswa yang ada di UGM. Dan menjadi petugas IT PKM Center, yang mengurus pengentryan data inputan PKM.

Kok betah udah hampir setahun di sana?
Entah, tempat ini menarik banget, aku belajar banyak tentang dunia perkantoran di sini. Belajar bagaimana birokrasi bekerja. Belajar ngoperasiin mesin fotocopy :D Merasakan jadi customer service ribuan mahasiswa yang ikut PKM dan prestasi-prestasinya yang masuk tiap hari. Kerjanya juga fleksibel, kita lebih sering santai kalau di kantornya, lebih banyak kerja di luar kantor ._. bahkan sabtu-minggu.

Ada nggak enaknya di sana?
Mesti adalah, salah satunya ya karena terlalu fleksibel jadi kadang mesti kerja padahal lagi libur dan sebagainya. Tapi, paling gak seneng kalau ada mahasiswa yang nganggep kita ini "pembantu" mereka. Ini jadi pelajaran banget buat aku juga, kalau kerja begini ini keras juga, capek juga. Dan kalau ada mahasiswa yang dengan asal "tolong ini, tolong itu, besok jadi" pesan singkat penuh "makna" ini kadang nggak tak tanggepin dan tak bales dalam hati "koen iki sopo? bosku juga bukan, minta tolongnya gak sopan gitu --"

Sampai mau kapan di sana?
Pinginnya sampai dapat beasiswa S2, di sini ada tiga anak yang juga lagi ngejer S2. Selain Tohir, ada satu lagi yang juga jadi partimer di sini, Mbak Shifa, dan kalau ditambah aku kita bertiga jadi sering sharing-sharing untuk dapet beasiswa S2 atau belajar-belajar bahasa Inggris. Tohir pingin ke Perancis, dia udah lama les bahasa Perancis (Padahal dia anak sastra Arab --"). Mbak Shifa maunya ke Inggris (kalau gak salah .__. ) ngelanjutin ilmu peternakannya di sana. Mudah-mudahan nanti kita bisa "Quit" bareng-bareng :D *dalam arti dapet S2 barengan cepet, bukan lama-lama

Tapi terlepas dari semua itu ada satu pelajaran yang bener-bener aku dapet di sini, "Hargai setiap pekerjaan orang, walau kecil" kadang kita nganggep beberapa pekerjaan itu remeh, kayak "ah cuma staff TU", "Ah, cuma OB", dan sebagainya. Tapi kita gak akan pernah tahu apa yang sebenernya dilakuin orang itu, seberapa berat pekerjaannnya, seberapa besar beban tanggungannya. Dan kita yang mungkin belum pernah kerja keras ini asal aja bilang "Ah cuma ....", panteskah?

Post-Skripsi Syndrome

...
Di atas sajadah yang panjang ini, Diselingi sekedar interupsi,
Mencari rezeki mencari ilmu, Mengukur jalanan seharian,

Begitu terdengar suara adzan, Kembali tersungkur hamba 
... 

Sejak mulai yang namanya mencari nafkah secara "serius" dan udah gak disambi kuliah. Rasanya yang kepikiran suatu pertanyaan sederhana "untuk apa sih kita kerja?"

Terus pertanyaan itu jadi kebawa ke pertanyaan selanjutnya.  Apa sih target akhir sebuah "bekerja" itu dikatakan berhasil? Ketika mendapat miliaran omset? Ketika bisnisnya sudah memonopoli pasar? Ketika kita sudah bisa mendapatkan pemasukan hanya dengan duduk terkantuk-kantuk?


Terus berlanjut kepertanyaan selanjutnya, kayak seberapa keras kita harus bekerja? apakah kita harus berkonsentrasi penuh menghabiskan waktu kita untuk mencapai target akhir yang masih belum jelas juga jawabannya?

Rasanya aneh ketika kita ngelakuin sesuatu yang kesannya gak ada ujungnya. Kita belajar pas sekolah atau kuliah ya biar dapat ilmunya yang bisa berimpas ke nilai yang bagus, terus lulus, selesai. Jelas.

Tapi bekerja? gimana dong?
Terus malam ini jadi inget sama perspektif dari lirik lagunya Bimbo berjudul Sajadah Panjang, yang aku yakin terinspirasi jelas dari Al-Quran dan Hadits.
Hidup ini seperti sajadah panjang, tempat beribadah, dan bekerja itu hanya "interupsi".

Jadi sekarang kalau ditanya apa alasan kamu mencari nafkah?
sementara ini yang bisa aku pikir jawabannya, aku cuma mau menghidupi 3 orang, aku, orang tuaku, dan calon istri dan anakku nanti. Sudah. Bukan mencari miliaran omset yang gak jelas juga akan dibawa kemana nantinya.

Skripsi #3 Entertainment

Ada beberapa hal yang paling terkenang kalo bicara "hiburan" selama skripsi.

1. Good Time + Swaragama FM

Ya, itu dua hal yang jadi teman begadang selama ngerjain skripsi, se-pak Good Time (cookies) dan nyetel radio keras lewat speaker HP. Kebanyakan dari swaragama FM, karena biasanya gak cuma lagu jadi ada obrol-obrol malem yang kadang bikin ketawa.

Ini bermula dari keheningan malam yang kadang bikin ngantuk akhirnya aku mesti nemuin kerjaan sambilan untuk begadang. Jadi biasanya nyiapin snack (seringnya good time, kadang juga broniz) sama ngeramein pake radio. Setelah beberapa kali, akhirnya aku mulai hafal sama penyiar radio dan jadwal acaranya -- juga mungkin ini yang bikin kata Pak Yus, "Kamu skripsian kok tambah gendut eh yan"

2. NFS Most Wanted by Origin
taruh di menunya paling bawah biar gak kecanduan, btw aku udah jago loh
Kalau yang ini gara-garanya aku kok mulai merasa kasihan laptopku yang sering panas karna gpunya dipakai buat komputasi skripsi. Jadinya install game biar panasnya karna main game :v Selain itu juga kebetulan ada promo dari Origin, ada game gratis 100% (tanpa crack) yang bisa didownload, jadinya download aja.

Terus jadi inget kata-katanya Rilut, "Enaknya main game itu senengnya dari awal, kalau nonton film kan senengnya diakhir film. Jadinya lebih efektif waktunya kalau main game" ._. ya.. bener sih...

3. Yotsuba&!
foto ini dulu aku kirim ke adekku buat pamer kalau ada komik banyak di kosan
Kalau yang ini gara-garanya Nana yang sering pakai stiker line bocah rambut hijau ini. Terus jadi penasaran itu apaan dan ternyata itu adalah karakter Yotsuba. Jujur, ini komik yang bikin aku bisa ketawa sampe guling-guling ._. asli hiburan banget, sinchan kalah lucu!. Suntuk skripsian, buntu gak ada ide, capek banyak kerjaan, baca ini, wes... langsung lupa ada masalah apa :v

Sayangnya edisinya cuma sedikit, awalnya aku beli yang edisi 1 terus karna ternyata lucu banget, aku jadi merasa pingin support penulisnya dengan tidak mbaca via internet,.. tapi gak beli komiknya juga :v jadinya pinjem Nana yang ternyata punya banyak koleksinya. Dan setelah seminggu lebih sidang (sampe sekarang), aku masih belum ngembalikin 8 edisi komiknya .__. *masih mau baca lagi

4. The Amazing Spiderman
film superhero yang paling berkesan sampai saat ini
Jadi sebelum Rilut bilang kalau main game itu lebih efisien waktu ketimbang nonton film, aku udah terlanjur nonton film ini dulu. Jadi biasanya pas pulang dari kampus itu jam 4 an, dan jam 4-6 itu kadang jadi waktu yang gak efektif karna akunya masih capek dan males mikir skripsi. Akhirnya kadang di jam itu nonton film atau baca buku atau tidur. Dan ini salah satu film yang aku tonton pas itu.

Banyak yang bilang film spiderman yang sebelumnya itu lebih bagus,.. kalau aku iya sih ._. performa acting artis di film ini agak gimana gitu, terus rasanya pemainnya gak cocok beberapa, Terus latar belakang lawannya jadi jahat itu juga kurang "kuat" -- apalagi yang film ke-2, asli.. suram. TAPI di film the amazing spiderman ini punya sentuhan yang beda yang dari film superhero lain menurutku. Sentuhan yang sampe aku bikin shock setelah selesai nonton kedua filmnya, iya shock yang bikin tiap inget jadi ngerasa "oh men", "wah", "luar biasa", dan sebagainya.

Sekarang, walau udah lama gak ngelanjutin main gamenya, mbaca yotsubanya, dan makan good time, tapi tiap lihat atau inget itu, jadi inget gimana serunya masa-masa skripsian dulu :)

Skripsi #2 Push the boundaries

screenshot kali pertama njalanin Theano di Windows, ternyata ndak seberapa ribet :)

Pas mulai mikir ambil skripsi, pinginnya emang nyoba sesuatu yang baru, yang bikin belajar dan nambah ilmu. Sempet kepikiran JST atau Fuzzy, cuma belum dapet ide mau apa topiknya. Sampai Triplek ngasih saran dipengembangan BeHafidz selanjutnya dibikin ada pengenalan suara bahasa Arabnya. *Ting, langsung pingin coba jadi topik skripsi

Bener-bener baru banget topik yang mau aku ambil, pengenalan suara, baru dalam arti belum pernah tak kerjain sebelumnya. "Ini gimana cara ndetectnya, gimana cara ngerekamnya, gimana cara ngenalinnya, dan lain-lainnya". Bener-bener blank pas itu .__.

Jadinya langsung tak lempar ke Bu Afia sekalian propose untuk jadi dosen pembimbing. Ibu nya setuju dengan topiknya, malah mengusulkan algoritma lain yang katanya cukup menarik, Deep Learning. Awalnya mantuk-mantuk aja gak ngerti deep learning itu apa (inget banget pas itu ibunya juga cerita-cerita tentang algoritma Backpropagation, SVM, dan HMM tapi aku gak ngerti ini ibunya ngomong apa karna emang pas itu belum paham :v cuma siap-siap nyari jawaban kalau ditanya biar bisa keliatan ngerti *maaf bu).

Akhirnya baru paham beberapa minggu kemudian kalau topikku ini berarti JST, berarti mesti mulai dari belajar JST. Dan pas KKN sambil pinjem buku JSTnya Maya, nyambi-nyambi belajar tiap malem atau pagi, mahamin ulang dasar-dasar JST yang gagal dipahami pas kuliah --"

banyak banget cerita seru pas belajar selama ngerjain skripsi ini:

Mulai dari berminggu-minggu diskusi "berat" sama bu Afia dan Rilut untuk memahami makna deep learning. Jadi ceritanya ada perbedaan pendapat di antara kami tentang makna deep learning itu sendiri. Kayaknya ini makan waktu paling lama untuk sepakat, mungkin 2 bulanan. Sempet juga chatting sama bu Yunita yang padahal lagi di luar negeri untuk nambah pandangan tentang makna deep learning itu sendiri.

Terus gimana serunya nyari tutorial dan kuliah dari beragam penjuru, download ratusan MB untuk nonton video dari yang basic kayak gimana cara kerja Backprop sampai memahami gimana intuisi dari kernel di dalam Convolutional Neural Network.

Ngurangin waktu tidur dan nonton film (ini yang sedih) untuk nontonin video tutorial atau diskusi di stackoverflow, setiap ada pertanyaan langsung tanya, dan bahkan untuk menguji kebenaran aku sempetin mbaca-mbaca pertanyaan orang di stackoverflow, masa-masa skripsi bener-bener nambah poin di stackoverflow

Juga di akhir-akhir bener-bener niat "hackathon" bareng dhafin, rilut, dan mas ucup di lab selama liburan kemarin. Buat belajar implementasi, teori, atau apapun. Sampe sempet ngerasain masa-masa dimana makan pagi-siang-malem di satu warung yang sama karena liburan cuma warung itu yang buka ._. #suramTapiSehat

...dan banyak cerita seru lain pas lagi "belajar" di masa-masa skripsi,

bener-bener petualangan yang serulah, dan yah, ini yang bikin rasanya jadi akan sangat mbosenin kalau habis ini harus kerja duduk diam dibalik laptop, dengan istilahnya Fitri, "Mengerjakan mimpinya orang lain", tanpa ada ilmu baru yang diperoleh

Skripsi #1

Hari sabtu pertama setelah sidang skripsi: ndak ada jadwal yang tersusun, ndak ada tekanan harus bab mana yang diselesaiin, ndak ada rencana eksperimen dan susunan kipas angin biar laptop ndak panas, rasanya bingung banget hari ini mau ngapain.

Pinginnya dukung tim badminton angkatan di CIA tapi rasanya masih ada sebagian pikiran "eh yakin mau dukung badminton? sabtu-sabtu gini mestinya bisa lebih produktif loh, coba cari ide aktivitas lain". Akhirnya seharian beres-beres kos, tidur, setting program untuk revisi, beli beberapa perlengkapan untuk kegiatan besok, dan ngelanjutin nyuci yang tertunda (iya, yang tertunda 24 jam lalu).

Alhamdulillah, kemarin Rabu, 16 Maret 2016 dengan nada suara yang berat Pak Edi Winarko bilang, "Ya Anda dinyatakan lulus... tapi dengan revisi.. artinya kalau Anda mau lulus ya Anda harus merevisi", sambil senyum. Dilanjutin senyumnya bu Afia dan Pak Edi Wibowo, saya juga langsung bahagia haha. Saya langsung nyalamin Pak Edi Winarko juga Pak Edi Wibowo, dan terus ngucapin terima kasih ke Bu Afia :) #bahagiaKadangGakSederhana

Yah, walau belum selesai juga skripsinya karena masih di masa-masa revisi, tapi jadi pingin cerita beberapa pengalamannya. Tapi karena malem ini harus berangkat ke Cepu untuk urusan kantor jadinya mungkin lain waktu, sementara naruh foto dulu :)

cuma foto ini yang presentase ngeblur dan pose jeleknya sedikit, tapi itu aku .__.

Jama'ah Labkomiyah


Dulu disingkat JL pas zaman SMA. Jadi ceritanya berawal dari keinginan lolos ke Univ yang diimpikan Aku, Liga, Mujahid, Fuad, Arya, Amry, sama Arfian Adam ngeniatin tiap jum'at malem nginep di labkomp sekolah buat belajar bareng hampir setengah tahun pas kelas 3 SMA.

Belajar bareng, nentuin topik mau belajar apa hari ini, latihan soal, terus diskusi, terus pembahasan. Kadang kalau ada Mas Sat (admin lab), masnya yang ngajarin kimia ( dia admin lab komputer yang kuliah di Teknik Elektro tapi jago banget kimianya .___. ). Terus paginya kadang main bola bareng, jalan sehat lari-lari, atau nonton film sampe nangis rame-rame (?). Kadang juga main DOTA -tapi karena aku gak bisa ya aku nonton film aja-

Tidurnya juga untel-untelan, kadang tidur di kursi lab, di sela-sela komputer yang karpetan, di ruang admin yang adem banget tapi ya sempit banget. Pas itu kita gak mesti belajar sih, kadang semaleman cuma ngobrolin "masa depan". Kadang langsung tidur karna capek siangnya. Inget juga dulu masa-masa koplak pas lagi jamannya TomCat, pada gak ada yang berani keluar lab. Sampe tidur sambil bawa obat nyamuk semprot. Atau inget juga si-A*** (biar banyak pilihan) yang gak berani ke kamar mandi gara-gara mbayangin, "ntar buka pintu labkomp terus tiba-tiba ada mayat kegantung, zzzz" -ceritanya itu aku yang ngomong ke dia tapi jadi ikutan takut .__.

Sedihnya karena sekarang udah gak ada pelajaran komputer, lab nya sekarang udah dibongkar entah jadi apa. Kangen aja rasanya kalau lagi ke sekolah. Kangen sama labnya. Tapi lebih kangen sama masa-masa berjuangnya, jadi akrab banget dulu sama Mujahid, temen sebangku yang dua tahun gak pernah akrab. Juga sama pemikiran-pemikiran keren Adam, atau Mujahid, atau Liga, atau siapa aja lah yang ada di lab waktu itu.

Dan setelah lebih tiga tahun, seneng juga kemarin sempet ngalamin peristiwa yang hampir sama, bareng Dhafin, Rilut, Mas Ucup, rempong bareng di lab buat skripsian. Nggak sampe nginep atau jalan sehat bareng-bareng sih, tapi tetep berkesan, diskusi masalah "masa depan", guyon gak jelas atau apalah... Jadi inget JL..

Toleran

Pernikahan itu seumur hidup loh, sampe kapan lu mau ngelempar muka Lando pakai sepatu?"

dari salah satu film indonesia yang menurutku paling berkesan, selain karena lucu banget, juga menurutku mereka bisa menyampaikan hikmah dengan cara yang alus dan baik, judulnya Aku, Kau & KUA.

dan entah kenapa kutipan itu jadi dalem banget, ya, bukan cuma di topik pernikahan, tapi juga pas kita menjalin persahabatan, atau sekadar rekan kerja, atau relasi apapun.

Itu yang menjadi pertanyaan, sampe kapan kita mau toleran terhadap kekurangan dia?
apakah ini berarti kita mestinya ninggalin dia?
atau menasihati?
atau.. tetap terus bertahan bertoleran?

#sekilasSkripsi

Tentang Masa Depan

Kalau bicara masa depan yang indah, pikiran kita tidak bisa lepas dari pekerjaan yang layak, yang berarti kita harus belajar saat ini; kehidupan yang bercukupan, yang berarti kita harus kerja keras hari ini; keluarga yang bisa mengademkan hati, menabung untuk kebutuhan anak-orang tua, pergi haji, dan sebagainya, dan sebagainya.

Kadang kita lupa tentang masa depan yang harusnya lebih kita pikirkan, kehidupan akhirat. Kadang kita disibukkan oleh misi-misi menuju visi dunia, dan lupa dengan misi-misi menuju visi akhirat. Dengan rela mengambil harta haram untuk kebutuhan "masa depan", dengan rela melalaikan agama demi belajar untuk "masa depan", dan sebagainya, dan sebagainya.

lalu jadi inget sebuah hadits,
Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya...
(hadits lengkap lihat: https://pengusahamuslim.com/2009-keutamaan-cinta-akhirat-dan-zuhud-dalam-kehidupan-dunia.html.)


Tentang Masa Lalu

Dulu aku pernah tanya pas masih kecil, polos aja, "Ma, apa itu masa lalu?"

Ibuku jawab sambil ngerjain tugas rumahnya,"Masa lalu itu ya sekarang, rumah kayak gini, kasur kayak gini, ini itu akan jadi masa lalu"

enggg.... gak paham maksudnya pas itu. tapi kalau dibayangin, sekarang, iya sekarang setelah bertahun-tahun, cerita itu udah jadi bener-bener masa lalu.

Ibuku seakan-akan ngajarin untuk gak terlalu memikirkan masa yang kemarin, tapi mikirin masa sekarang yang akan menjadi masa lalu di masa mendatang.

Sampai Takdir yang Memisahkan

Seorang pemuda ditegur satpam karena masuk ke area ruang tunggu. Dengan alasan ingin mengucapkan selamat tinggal ke ibunya yang sudah menua. Kini satpamnya sudah berjumlah dua dan si anak masih tetap berdiri kokoh menatap jendela kereta dari peron stasiun.

Di baliknya, di mana sang ibu berdiri di dalamnya melambaikan tangannya sambil tersenyum mengucapkan selamat tinggal. Ibu tersebut tersenyum dan terus melambai sampai kereta berjalan, dan semakin cepat, dan menjauhkan pandangan mereka berdua. Sampai takdir memisahkan mereka berdua. Sang ibu bisa duduk kembali di kursinya dengan puas dan bahagia.
...
Sayangnya itu cuma khayalanku yang duduk di sebelahnya. Karna yang terjadi pagi itu sang Ibu mencari-cari anaknya melalui jendela kereta, menyapu seluruh bagian stasiun. Tapi tidak berhasil menemukan. Si anak sudah tidak ada, pergi, entah kemana. Tidak ada lambaian tangan. Tidak ada yang memisahkan. Kereta berangkat, dan Sang Ibu duduk kembali dengan wajah lesu menatap jendela.

Chat Time

Normalnya, orang akan lebih berhati-hati gak sih kalau ngobrol di chat di dunia maya? Prinsip berpikir sebelum bicara biasanya bener-bener dipake di sini. Makanya banyak kejadian orang yang jadi terlihat "lebih baik" di dunia maya. Terus berujung ke penipuan lawan bicaranya, dan seterusnya, dan seterusnya.

Tapi,
gimana kalau kamu bisa melihat sifat buruk seseorang dari obrolannya di dunia maya? sifat yang keliatan banget. Enggan mau ngaku salah, enggan minta maaf, arogan, egois, dan sebagainya.

Apa dia gak berusaha nutupin? atau memang sengaja diumbar? atau memang dia gak sadar sama sifat ini jadinya dia gak coba tutupi di dalam chat

atau.. mungkin ini cuma perasaanku aja... :/



*catetan pemikiran random ditengah chat dengan seseorang
*bukan berarti yang lagi chat dengan saya orangnya buruk
*bukan juga mau promosi toko yang jual es teh sampai 25ribu di belakang mirota kampus yang namanya sama dengan judul post ini

Sholat saya cenderung lama loh

Kata mas Rifqi pas lagi mau jadi imam sholat maghrib kemarin lusa.

Terus dalam hati aku jadi inget, dulu pernah ngerasain sholat terawih di Masjid Mujahidin di Surabaya sana. Sholatnya lamaaa banget, satu rokaatnya kira-kira setengah jam. Sholat sampai gak fokus pas itu, udah gitu sholat terawihnya juga pas tengah malem.

Akhirnya pas beberapa waktu kemudian diajak temen sholat ke sana lagi, aku nolak. Alasannya ya itu, sholatnya jadi malah gak bisa fokus, kebawa ngantuk dan capek. Terus jawaban salah seorang yang ngajak pas itu, pas ndenger jawabanku,

"Ya itu karena kita belum bisa mahami apa yang dibaca imam, ayo semangat belajar bahasa Arab, perbanyak hafalan Qur'annya jadi suatu saat kita bisa nikmatin sholat di sana"

#jleb

Untukku Masalahku

Beberapa jam setelah aku post tentang prioritas, gak sengaja nguping obrolan orang yang masih setopik dengan postingan itu.

Masalahmu masih gak sebanding kok sama masalahku", katanya

Menurutku kalimat ini termasuk kalimat yang perlu diwaspadai pemakaiannya. Untuk beberapa orang mungkin akan, "Iya juga, apa yang aku alami belum apa-apa, alhamdulillah". Tapi sebaliknya bisa jadi beberapa orang malah akan, "Oh ya?! emang kamu tahu masalahku? sok tau banget sih!"

Lovely view


kangen nggambar di paint + pemandangan UGM yang akhir-akhir ini banyak kupu-kupu

Resensi: Cabin Notes

Kemarin tanggal 24 Desember diajakin main ke togamas, udah lama juga gak mampir toko buku. Rencananya beli komik buat adekku yang katanya mau ke Jogja besoknya. Juga nyari bacaan ringan yang ngerehatin di tengah skripsi.

Terus nemu buku ini, harganya 50rban, 200an halaman
Random banget milihnya, pokoknya setelah tahu itu buku ceritanya nonfiksi jadi langsung pingin beli. Bayanganku aku bakal bisa dapet perspektif baru dari seorang pramugari pesawat. Dan ya, dapet banget.

Buku Cabin Notes ini bener-bener notes. Kumpulan dari artikel-artikel yang ditulis oleh salah seorang pramugari yang memiliki beragam pengalaman, Pratiwi Hidayat, dan dikelompokkan menjadi empat bab besar: Thrust, Lift, Drag, dan Weight, empat istilah yang berhubungan erat dengan dunia penerbangan.

Buku ini menceritakan suka-duka-warna-warni kehidupan seorang pramugari, seperti bagaimana susahnya menjalani tes karena batasan umur, hingga rasa bahagia ketika menerima ucapan terima kasih dari penumpang pesawat. Tidak ketinggalan pula kisah-kisah mengerikan tentang kecelakaan pesawat yang diperoleh dari narasumber yang menjadi korbannya.

Seneng banget baca buku ini, bener-bener nambah wawasan. Selama ini kita mungkin cuma denger sisi negatif menjadi pramugari tanpa tahu betapa berat beban yang mereka tanggung. Dengan baca buku ini kita bakal akan terbuka pikirannya dan bisa belajar lebih menghargai orang lain.

Yang menarik :)
  • Terdapat kutipan fakta-fakta unik tentang dunia penerbangan, misalnya istilah +3/-8 yang menunjukkan menit-menit paling kritis dalam sebuah penerbangan (3 menit setelah lepas landas, dan 8 menit sebelum mendarat).
  • Selain itu juga penulis menyelipkan kutipan dari Al-Quran dan Hadits yang bisa memotivasi kita dan menjadi bahan renungan bersama.
  • Ini adalah kumpulan artikel yang ditulis bertahun-tahun, aku suka banget melihat bagian akhir setiap artikelnya yang menunjukkan lokasi dan kapan artikel itu ditulis, "Jeddah 15 Agustus 2015" 
Yang kurang menarik :(
  • satu yang sedikit aku kurang sreg dari buku ini karena dibagian akhir-akhir wawasan tentang ke-pesawat-an seakan agak berkurang. kumpulan artikel akhir-akhir isinya tentang motivasi-motivasi gitu. Masih ada info tentang penerbangan, cuma lebih sedikit. Dan tetep bagus kok, cuma kalau aku memang gak terlalu suka motivasi-motivasi gini. 
Overall, buku ini menarik banget untuk dibaca, khususnya kita yang selama ini berpikiran negatif dengan pramugari atau tentang penerbangan, atau yang ingin tahu tentang seluk beluk penerbangan. Inspiratif dan Edukatif :)

Prioritas

Semua orang punya prioritas yang berbeda,
ada yang memprioritaskan untuk bisnis dulu, kepentingan keluarga dulu, atau pendidikan dulu,.
atau sebagainya, atau sebagainya.

Menurutku perbedaan itu nggak masalah kok, toh, tiap orang punya jalan hidup yang beda-beda.
Apapun prioritas kita, tentukan pilihan itu dengan hati-hati.
Apapun prioritas kita, kita mesti tanggung jawab terhadap pilihan kita.

Tapi, yang kadang aku gak suka adalah ketika ada orang yang merendahkan prioritas orang lain.
"Ngapain ngurusin kuliah mulu, yang penting itu bisa dapet penghasilan dulu, bla bla ba"
"Kamu yakin mau fokus kerja? gak bakal maju bro, yang penting itu kuliah dulu, bla bla bla"

Kadang mereka mengira memberi saran, tapi kenyataannya, aku yang melihat dan mendengar kejadian seperti itu merasa salah satu pihak sedang dihina cita-citanya.

Sahabat