Kamu Yakin Bisa?

Kisah kasih Gemastik 8 kemarin,

Sempet dibuat kecewa oleh seseorang yang terlalu menganggap remeh tugasnya.
"Kamu yakin bisa?"
"Bisa kok"
Itu yang kedengeran di telinga ketika pemuda ini dapet amanah yang tadinya mau aku serahin ke orang lain. Sebenernya sudah ragu sejak awal karena melihat pengalamannya agak kurang, tapi dikarenakan kondisi yang mendukung dan kata-katanya yang terlihat yakin penuh senyum, saya percaya.

Dan nyatanya?
gak sengaja aku udah ngerakit bom waktu yang meledak di akhir persiapan Gemastik kemarin.

"Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, 'Sesungguhnya kau akan mengerjakan itu besok pagi', kecuali (dengan menyebut), 'Insya-Allah'. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah, 'Mudah-mudahan Tuhanku akan memberi petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini'." [QS. Al-Kahfi: 23-24]

Keep Calm

Akhir-akhir ini gak tahu kenapa sering banget dapet dua kutipan ini, yang pertama adalah hadits tentang anjuran untuk tidak terlalu nggetu mengejar dunia,

“Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)“ [HR. Ahmad (5/183)]

dan beberapa kutipan kata-kata bijak lain yang senada dengan,

"Jangan terlalu sering melihat ke atas, coba lihat ke bawah, kamu mesti lebih bersyukur"

dua kutipan tadi kalau diinget bisa agak nenangin hati akhir-akhir ini

Kadang kita terlalu sering komplain

Setelah KKN dapet kerjaan baru bantu-bantu sistem informasi PKM di UGM. Untuk mempermudah komunikasinya, (dan karena aku juga gak aktif di whatsapp dan twitter) aku bela-belain deh share nomor HP ke dunia maya biar kalau ada yang komplain bisa langsung ditanggepin.

Hasilnya? dalam waktu sekitar 10 hari ini aku yakin udah dapet sekitar 500 sms yang nanyain atau komplain masalah akunnya -lupa password lah, minta tandatangan, belum dapet username diktilah- ini baru sms, karna ternyata gak sedikit juga yang ngewhatsapp hpku, fyuh.. Tapi kalau aku sih seru-seru aja, malah kadang bisa ketawa sendiri nanggepin orang yang sms nomorku tanpa tahu aku ini bapak-bapak, ibu-ibu, mas-mas atau mbak-mbak :)

Tapi itu berubah dengan sms yang aku dapet (baca) malem ini, nomor ini gak ada dihistori sms ku, artinya ini kali pertama dia sms nomorku, dan isinya:

"Selamat siang, Saya *nama* *fakultas* *angkatan* (nim ****) Saya sudah melengkapi seluruh persyaratan berkas pkm, dan alhamdulillah sudah dapat username dikti juga"


...

Apa yang salah?
nggak ada, tapi dari sekian ratus sms yang aku terima, ini adalah satu-satunya sms yang masuk ke hpku bukan karena ada yang ingin dikomplain atau ditanyakan! bahkan kalau aku baca, nadanya lebih ke laporan keberhasilan, dan (mungkin) sedikit rasa terima kasih! wow :) aku yang sudah hari-hari kemarin ini menerima sms penuh komplain, nerima sms kayak gitu bikin senyum bahagia banget...

ya, pelajaran buat kita semua, kadang kita terlalu sering komplain, tapi tidak sadar rizki yang kita terima... wifi lambat komplain, kenceng diem aja. dosen mbosenin komplain, dosen keren, diem aja. Nilai jelek komplain, nilai bagus, diem aja...

"mohon maaf baru balas, Alhamdulillah,  tetap semangat ya, semoga sukses sampai pimnas"

Busy (ness)

Akhir-akhir ini jadi dibuat sibuk sama banyak kegiatan. Karena awal masuk semester ngira semester ini bakalan santai, jadi dari awal semester udah cari-cari kesibukan. Daftar part-time di sinilah, di sana lah, daftar kegiatan ini lah, itu lah. Dan gak nyangka semua jadi ketumpuk gini.

Kadang pingin banget nge-cancel salah satu, atau salah dua. Tapi mesti di setiap mikir kayak gitu berujung ke sebuah pertanyaan, "Sebenernya ini karena aku yang gak bisa manajemen waktu, terlalu banyak main, atau aku yang gak sadar udah terlalu serakah mengambil banyak amanah yang akhirnya bikin aku sampai kebatas kesibukanku?", dan akhirnya terjawab dengan, "coba dulu aja" -_-

Kesibukan kayak gini sebenernya pernah tak rasain pas masa-masa MOS dan LDK pas SMA dulu. Tapi bedanya, dulu itu aku ngerti ujungnya, MOS bakalan selesai 3 hari aja, LDK sebulan akan kelar, tapi untuk kali ini, bener-bener gak ngerti deh endingnya kapan. Malah perasaan aku masih maju mundur di titik start.

Semoga aja ini termasuk kesibukan yang bukan kesia-sian.


Sahabat