The Swordless Samurai: Kepemimpinan ala Jepang

Jadi pingin sharing sebuah buku yang menarik banget, berjudul "The Swordless Samurai". Kegiatan rutin bulanan, nge-random datang ke toko buku buat nyari bahan bacaan biar kamar nggak terlalu membosankan karna hal-hal berbau komputer, dan akhirnya nemu buku The Swordless Samurai ini.

The Swordless Samurai, merupakan buku biografi yang cukup inspiratif, mengisahkan kisah kehidupan pemimpin legendaris Jepang, Toyotomi Hideyoshi.


Buku ini memang buku biografi, tapi menarik banget buat dibaca.  Ditulis dengan sudut pandang orang pertama, bikin kita ngerasa terbawa ke Jepang di abad 16. Kita bisa belajar tentang bagiamanakah kehidupan kekaisaran, peperangan, samurai, dan kondisi sosial Jepang pas itu.

Selain itu, buku ini juga membuat pembaca merasa langsung dibina oleh Hideyoshi tentang poin-poin penting seputar kepemimpinan. Banyak prinsip-prinsip penting yang selalu dicatat di akhir setiap kisahnya, tentang bagaimanakah seorang pemimpin itu seharusnya, sikap, dan keputusannya, bahkan bagian-bagian buruk tentang menjadi pemimpin, wis pokoke bener-bener menarik dan berisi.

Sekadar info, Hideyoshi ini adalah seorang warga sipil yang karena begitu terampil, jujur, tekun, rela berkorban, dan beberapa sifat baik lainnya. Beliau berhasil menjadi seorang kaisar legendaris yang berhasil mempersatukan Jepang. Disebut Swordless Samurai, karena seperti itulah Hideyoshi, dia bukanlah seorang samurai, bukan pendekar, perawakannya tidak mendukung, bahkan tidak menarik untuk dilihat, tetapi dialah yang berhasil menjadi pemenang tunggal dari peperangan panjang di negeri sakura tersebut.

Alumni

Sebuah predikat yang diberikan ke seseorang sesudah 'masa'nya. Sebenernya ini juga merupakan tanggung jawab. Ketika kita masih di SMA, maka kita punya tanggung jawab sebagai siswa SMA. Dan ketika kita sudah lulus, maka kita punya tanggung jawab sebagai alumni.

Menjadi alumni menurutku jauh lebih sulit dan lebih berat dibanding ketika jadi pra-alumni biasa. Karna ketika kita telah jadi alumni, kita sudah berada pada lingkungan yang berbeda, tapi mesti tetap berprilaku atas nama lembaga yang memberi kita predikat ini.

Sungguh malu kalau dengar, "X, Alumni SMAN 5 Surabaya terlibat korupsi" atau "Dia dulu adalah pengurus di organisasi rohis, tapi sekarang suka mabuk-mabukan". yah, yang kalimat kedua itu kata alumni muncul secara implisit.

Selesai tanggung jawab di suatu lembaga bukan berarti bener-bener sudah. Kita baru saja mendapat gelar alumni, yang gelar itu tidak ada masa akhirnya, yang jauh lebih berat, yang jauh lebih diperhatikan, dijadikan contoh. Makanya, masuk atau bergabung organisasi atau lembaga bukan hanya momen formalitas, atau keinginan berbagi sesama, tapi juga ajang perbaikan diri. Setidaknya kita harus mempersiapkan diri sebelum gelar alumni itu datang kan? dan jangan buat mereka kecewa atas prilaku alumninya.

Beautiful Mind

Itu sebenernya judul film. sayangnya aku gak seberapa suka filmnya, soalnya itu film yang berawal dari kisah nyata, tapi malah bagian-bagian yang bagus adalah tambahan-tambahan fiktif belaka.

Tapi di balik judul itu aku punya cerita menarik. Entah kenapa, sejak SMA aku mulai ada rasa terhadap seseorang, oh maaf, beberapa orang. Nggak tahu ini bermula tepatnya mulai kapan, sepertinya sejak aku duduk bareng Arief yang mesti bikin aku sabar setengah mati.

Ya, dilatarbelakangi duduk sebangku dengan orang paling menyebalkan sesekolah saat itu, semoga nggak saat ini :p, aku jadi belajar banyak gimana cara berinteraksi dengannya. Aku terpaksa mengikuti polanya dan masuk di sistemnya. Dan ternyata, belajar memahami sebuah sistem ini yang menjadi momen paling menarik dan berkesan. Dan kayaknya sejak saat itu aku jadi semakin marak kenalan dengan orang dan menikmati belajar memahami cara berpikir mereka. Apalagi sejak gabung di beberapa organisasi dan tim olimpiade, semakin banyak orang yang punya beautiful mind yang bisa aku temui.

Apa yang aku maksud sebenernya tentang beautiful mind di sini susah buat dijelasin. Ini adalah kondisi di mana ada seseorang yang punya cara pikir, kebiasaan, atau sifat yang antimainstream, kayaknya gitu. Tapi gak sekadar antimainstream, tapi antimainstream yang positif, tapi bukan positif yang seperti kebanyakan orang pikirkan, ah, entahlah, sulit didefinisikan.

Mungkin sebagai contoh aku kenalin kalian dengan JH. Dia adalah salah satu orang yang berpengharuh dalam sejarahku, yah, walau sekarang udah lama gak ngobrol lagi. Dia adalah orang paling licik yang pernah kutemui, yah licik, tapi liciknya sangat menarik. Dia tidak menggunakan kelicikannya untuk menipu orang lain, tapi untuk mencurangi sistem. Ketika dia bertemu dengan suatu masalah maka dia bukannya mencari solusi dengan cara yang biasa, tapi dengan cara yang yah, "Pasti ada celah yang bisa buat aku menang"

Adalagi DA, dia adalah wanita yang cerdas dan pintar, itu saja? tidak, karna jika dilihat secara nyata, dia cuma wanita gak normal karena segudang aktivitas organisasinya, siapa yang nyangka kalau orang yang super sibuk itu lebih pintar dari orang yang hidupnya penuh dengan belajar?

dan kemarin aku barusan bertemu dengan RH, aku sendiri masih gak ngerti dengan konsep pikirnya, cara dia menulis, membaca, dan bicara bener-bener beda, sangat beda. Bener-bener unexpectable. Belum bisa cerita banyak tentang dia, tapi keragamannya bikin aku jadi penasaran, manusia seperti apa dia? dan ini yang bikin aku jadi tertarik untuk mengenang orang-orang luar biasa pemilik Beautiful Mind yang pernah tak temui.

Mereka adalah orang-orang yang punya hobi yang berbeda, kebiasaan yang unik, dan cara berpikir yang menarik -menarik di sini tidak berarti pintar-. Dan ini adalah sebuah nikmat tersendiri buat aku. Setiap kali bisa bertemu dengan orang-orang ini rasanya jadi seneng sendiri.

Aku sangat menghargai keunikan mereka, duduk bersama mereka rasanya adalah nikmat tersendiri. Dan seperti Sylar, aku juga berusaha meniru hal-hal baik dari mereka, dan blog ini juga akan menjadi saksi, gimana konsep berpikirku berubah dari waktu ke waktu ..

Sahabat